Sejarah Pesarean Gunung Kawi Dipercaya Bisa Datangkan Kekayaan
Gerbang Pesarean Gunung Kawi (Dhimas)

MALANGTODAY.NET – Gunung Kawi yang dianggap sebagai tempat mendatangkan kekayaan melalui jalan ritual pesugihan ternyata memiliki sejarah panjang. Sejarahnya tidak lepas dari perang Pangeran Diponegoro yang saat itu ditawan Belanda.

Hari Prianto Aji, Sekretaris Yayasan Gunung Kawi, menceritakan tentang awal mula adanya pesarean di areal gunung Kawi yang selama ini dianggap mampu mendatangkan kekayaan bagi sebagian masyarakat.

“Kronologi sejarah wisata ritual Gunung Kawi dimulai pada tahun 1830, setelah Pangeran Diponegoro menyerah pada Belanda. Banyak pengikutnya yang lari ke Jawa Timur. Di antaranya penasehat spiritual Pangeran Diponegoro yang bernama Eyang Djoego atau Kyai Zakaria II,” cerita Aji.

Ia menambahkan bahwa pengembaraan Eyang Djoego mencapai Desa Sanan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Beliau mulai berada di sana sekitar tahun 1840-an. Dari situ pembangunan sebuah padepokan dimulai.

“Setelah mendirikan padepokan Djoego, datanglah murid-murid beliau yang di antaranya R.M Iman Soedjono, ia adalah salah satu senopati Pangeran Diponegoro, yang akhirnya dijadikan anak angkat oleh Eyang Djoego,” lanjutnya.

Karena telah lama bersama Eyang Djoego, R.M Iman Soedjono diberi sebuah tugas untuk pergi ke Gunung Kawi di lereng sebelah selatan, untuk membuka hutan lereng selatan Gunung Kawi.

Eyang Djoego berpesan bahwa di tempat pembukaan hutan itulah beliau ingin dikramatkan (dimakamkan). Ia juga berpesan bahwa di desa itulah kelak akan menjadi desa yang ramai.

“Maka berangkatlah R.M Iman Soedjono dengan dibekali dua buah pusaka ‘Kudi Caluk dan Kudi Pecok’ dengan membawa bekal secukupnya beserta pendereknya (pengikut). Orang yang dipercaya untuk memimpin rombongan dan pembukaan hutan dipercayakan pada Ki Wonosari,” tambahnya.

Setelah pekerjaan pembukaan hutan selesai, kemudian R.M Soedjono membuat rumah untuk menetap juga sebagai padepokan, di rumah itulah R.M. Iman Soedjono beserta pengikutnya berunding untuk memberi nama tanah babatan itu.

Karena yang memimpin pembabatan hutan itu bernama Ki Wonosari, kemudian disepakati nama daerah babatan itu bernama dusun Wonosari.

Kemudian diutuslah salah satu pendereknya (pengikut) untuk pulang ke padepokan Eyang Djoego, Desa Sanan Kesamben, untuk melapor kepada Eyang Djoego bahwa pembabatan hutan di lereng selatan Gunung Kawi telah selesai dilakukan.

“Mendengar laporan dari utusan R.M. Iman Soedjono tersebut, maka berangkatlah Eyang Djoego ke dusun Wonosari di lereng selatan Gunung Kawi yang baru selesai,” kata Aji.

Sekian lama, akhirnya pada hari Senin Pahing tanggal Satu Selo (bulan jawa kesebelas), Eyang Djoego wafat. Jenazahnya dibawa dari padepokan Djoego Kesamben ke dusun Wonosari Gunung Kawi.

Jenazahnya dimakamkan sesuai permintaan beliau yaitu di gumuk (bukit) Gajah Mungkur di selatan Gunung Kawi. Jenazah itu tiba di Gunung Kawi pada Rabu Wage malam, dan dikeramatkan (dimakamkan) pada Kamis Kliwon pagi.

“Makam Eyang Djoego dirawat dan dibersihkan oleh R.M Iman Soedjono, hingga pada hari Rabu Kliwon tahun 1876, Eyang R.M. Iman Soedjono wafat, dan dimakamkan berjajar dengan makam Eyang Djoego, karena itu juga permintaan beliau. Sejak meninggalnya Eyang R.M. Iman Soejono, Dusun Wonosari bertambah ramai hingga sekarang.” tutup Aji.

Terlepas dari sejarahnya, saat ini pesarean gunung Kawi sendiri dikenal orang sebagai tempat mencari pesugihan daripada sebagai tempat wisata religi.

Namun dengan perkembagan zaman yang semakin modern, bahwa mencari pesugihan itu tergantung kepercayaan masing-masing, ada yang percaya itu hanya mitos ada pula yang benar-benar mencari keberuntungan di Gunung Kawi.

Berikan tanggapan Anda

Balas

Please enter your comment!
Please enter your name here