Ada Cafe Apung, Rawa Klampok di Sumberpucung Bisa Hasilkan 100 Juta
Plt Bupati Malang Muhammad Sanusi saat berkunjung ke Rawa Klampok (Istimewa)

MALANGTODAY.NET – Keberadaan Rawa Klampok di Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang ternyata membawa multiple effect pada perputaran ekonomi masyarakat setempat.

Seperti diketahui, Rawa Klampok saat ini selain dijadikan sebagai tempat budidaya ikan, utamanya jenis nila, tempat itu juga terdapat Cafe Apung yang menjadi primadona dan banyak dikunjungi wisatawan.

Baca Juga  Sangat Seru, Belajar Mengemudikan Helikopter di Jatim Park 1

Plt Bupati Malang Muhammad Sanusi mengatakan, Cafe Apung yang kini menjadi salah satu destinasi wisata andalan itu masih bisa dikembangkan sebagai tempat wisata yang semakin menarik dan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan.

”Cafe Apung ini dikelola oleh masyarakat desa namun berada dibawah dalam koordinator Kepala Desa. Sabtu dan Minggu banyak dikunjungi pengunjung. Dengan menjual aneka makanan dan minuman ala cafe, omset Cafe Apung ini sekitar Rp 60 sampai 100 juta per bulannya,” kata Sanusi belum lama ini.

Baca Juga  Ridwan Hisjam Titip Pesan Untuk Wisudawan IBU

Selain mengandalkan Cafe Apung, pengelola wisata di Rawa Klampok juga menghadirkan varian olahraga air. Seperti halnya mini jetski.

“Cafe ini juga didukung wahana permainan seperti perahu motor dengan sewa Rp 5 ribu per orang sekali putaran, sepeda air 10 ribu per 10 menit hingga mini jetski. Harus dikelola lagi agar semakin menarik, serta pemandangan rawa ini semakin sejuk, bersih dan asri,” terang Sanusi.

Meskipun Rawa Klampok saat ini sudah mulai berkembang menjadi salah satu destinasi favorit, namun Sanusi mengungkapkan bahwa budidaya ikan nila disana tidak bisa dilupakan begitu saja.

Baca Juga  Lanud Abd Saleh Gelar Sosialisasi Persiapan Masa Pensiun Bersama ASABRI

Tidak jauh dari Rawa Klampok, ada Kampung Rajut Kecopokan. Di tempat tersebut terdapat waduk yang juga dimanfaatkan masyarakat untuk budidaya ikan nila.

“Usaha budidaya ikan nila di Kecopokan yang berada dalam aliran ke arah Bendungan Sutami Karangkates ini memiliki potensi bagus. Potensi ini tinggal dikembangkan saja karena masyarakat setempat sangat cocok dalam budidaya ikan nila,” ucap Sanusi.

Menurut keterangan pembudidaya ikan nila di waduk Kecopokan, tiap tahunnya mereka bisa menghasilkan antara 2-3 ton ikan nila. Ada kelompok tani yang beranggotakan 180 orang. Artinya, per tahunnya mereka mampu memproduksi kurang lebih 360 ton ikan nila.

Baca Juga  Gerak Cepat, Polisi Selidiki Penebangan Pohon Jati di Tanah Bengkok Sumawe

”Harga jualnya ikan nila asli Kecopokan ini juga cukup bagus antara Rp 24 sampai 30 ribu per kilo. Namun kalau lagi musim, ikan nila harganya dibawah Rp 20 ribu per kilo nya. Akan kami kembangkan dengan berusaha membantu dan menyiapkan benih ikan nila kepada para petani ikan disini,” pungkas Sanusi.


Reporter: Dhimas Fikri
Editor: Swara Mardika

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.