Mumi Suku Dani, Papua @ Boombastis

MALANGTODAY.NET – Ada yang sudah pernah nonton film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak? Ya, film yang diperankan oleh Marsha Timothy dan memiliki setting lokasi di daerah Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Dalam beberapa adegan di film tersebut, beberapa kali nampak suami Marlina (Marsha Timothy) yang sudah meninggal bukannya dikubur, tapi malah didiamkan saja di salah satu sudut ruangan.

Ternyata, memang tak hanya di negeri Mesir saja yang kental dengan tradisi mengawetkan jasad atau mayat orang yang sudah meninggal. Di Indonesia sendiri, ada beberapa daerah yang juga memercayai tradisi yang banyak kita kenal dengan mumi itu.

Baca Juga: Juru Bicara Prabowo Subianto Ini Dipanggil Polisi, Ada Apa?

Dilansir dari takaitu.com, berikut beberapa daerah di Indonesia yang masih menggunakan tradisi mengawetkan mayat.

Kampung Wolondopo, Nusa Tenggara Timur
Mengenali Tradisi Mengawetkan Mayat Beberapa Daerah di Indonesia
Ilustrasi suami Marlina yang diawetkan dalam film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak @ Hipwee

Mungkin ide cerita di film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak itu terinspirasi dari tradisi masyarakat Kampung Wolondopo, Nusa Tenggara Timur.

Di kampung ini berdiri sebuah bangunan yang berisikan sebuah mumi yang awet secara alami. Secara alami berarti mayat ini tidak pernah mendapatkan proses-proses pengawetan seperti pengasapan atau pembalsaman.

Mumi Suku Moni, Papua
Mengenali Tradisi Mengawetkan Mayat Beberapa Daerah di Indonesia
Mumi Suku Moni di Papua @ Kwikku

Baca Juga: Baru Pacaran 4 Jam, Seorang Pemuda Nekat Cabuli Pacarnya

Bergeser ke timur di tanah Papua, juga terdapat mumi yang dikenal dengan Belau Mala. Belau Mala sendiri merupakan mumi yang mayatnya jenazahnya dilumuri dengan minyak babi hingga merata ke seluruh tubuh.

Kemudian mayat yang telah dilumuri dengan minyak babi tersebut diletakkan di atas perapian hingga mengering dan tidak membusuk.

Suku Dani, Papua
Mengenali Tradisi Mengawetkan Mayat Beberapa Daerah di Indonesia
Pengawetan mayat Suku Dani, Papua @ Hello-pet.com

Suku Dani di Papua juga memiliki tradisi pengawetan yang serupa. Para kepala suku di Suku Dani yang telah meninggal akan diawetkan ddengan cara dijemur dan disimpan di dalam gua. Kemudian mayat yang telah menjadi mumi tersebut akan ditaruh di atas perapian untuk mengeluarkan seluruh cairan dalam tubuh agar mumi itu tidak busuk.

Lalu mumi tersebut akan ditusuk menggunakan tulang babi sehingga perlahan mumi akan kering dan menghitam dengan alami.

Baca Juga  Berikut Daftar 27 Korban Tewas Kecelakaan Maut di Tanjakan Emen
Suku Toraja, Sulawesi Selatan
Mengenali Tradisi Mengawetkan Mayat Beberapa Daerah di Indonesia
Pengawetan mayat di Toraja @ Boombastis

Suku Toraja memiliki tradisi mengawetkan mayat terlebih dahulu sebelum nantinya dikubur di liang batu yang terletak di gua bukit. Pengawetan ini dilakukan oleh masyarakat suku Toraja karena biaya yang diperlukan untuk mengubur mayat di gua bukit memerlukan biaya yang sangat mahal harganya.

Baca Juga: 5 Alasan Presiden Jokowi Layak Berikan Amnesti Kepada Baiq Nuril

Sambil menunggu memiliki dana yang cukup untuk melakukan proses penguburan, suku Toraja melakukan pengawetan tersebut. Jika belum dimakamkan, masyarakat Toraja menganggap bahwa mayat itu masih sakit dan belum meninggal. Mayat yang diawetkan itu pun masih diberi makan, minum, dan rokok.


Penulis: Swara Mardika
Editor: Swara Mardika

Loading...