ads

MALANGTODAY.NET – Isu lingkungan tidak pernah lepas dari perbincangan orang sehari-hari, tak terkecuali dalam lingkup seni rupa.

Seniman selalu memiliki sudut pandang tertentu dalam responnya terhadap lingkungannya. Salah satu cara mengetahui pandangan tersebut, dengan menelisik hasil karya lukisannya.

Hal itu tampak dari giat pameran lukisan yang bertajuk B to B di Galeri Raos Batu, Minggu (30/4). Tema isu lingkungan juga tampak dari salah satu lukisan di kanvas besar ukuran 195 cm x 225 cm di pojok kanan ruang pameran. Lukisan dengan genre realis yang berjudul, ‘Komposisi Terbalik’ lahir dari tangan perupa Kota Batu.

Dikatakan perupa, Suwandi Waeng tentang makna lukisan tersebut merupakan bentuk responnya terhadap perkembangan suatu daerah atau kota.

“Dalam kacamata saya sebagai seniman, saya melihat banyaknya lahan produktif seperti sawah atau hutan, saat ini telah bergeser fungsi menjadi hunian lahan bangunan yang tidak produktif,” paparnya.

Dampak dari pergeseran makna lahan menjadi tidak produktif tersebut, ia menjelaskan akan berdampak pada ekosistem satwa liar.

“Dalam lukisan, satwa itu saya simbolkan dengan gambar karakter kartun Angry Bird yang saya anggap ilusi kapitalisme,” sambungnya.

Selain menggambarkan kegersangan, punahnya satwa-satwa liar, lukisan pria yang menjadi pelukis sejak 2001 ini menggambarkan lukisannya dengan konsep terbalik. Digambarkan hutan hijau ada di komposisi bawah, sedangkan bebatuan gersang di komposisi atas.

“Kenapa saya bikin terbalik? Karena melihat kenyataannya, dunia berkembang bukan mengarah pada kemajuan dan kebaikan. Yang kita lihat kan justru sebaliknya,” tukasnya pada MalangTODAY mantap.

Ditanya terkait proses pengerjaan lukisan ini, Suwandi Waeng mengaku menggarapnya dalam waktu kurang lebih selama satu bulan.