Sosok Mbah Titik, Sukarelawan Tertua Saat Angkot Mogok di Kota Malang
Mbah Titik, ketika ditemui dikediamannya (Pipit Anggraeni)

MALANGTODAY.NET – Fenomena angkot mogok di Kota Malang yang terjadi beberapa waktu lalu menyisakan banyak cerita. Tentu masih segar juga di ingatan, tentang adanya ratusan sukarelawan yang tanpa pamrih mengantar dan menjemput para penumpang terlantar.

Di tengah-tengah itu semua, ternyata ada seorang perempuan baya yang sudah tak muda lagi. Jiwa sosialnya yang tinggi, mampu menggerakkan hati insan pemuda untuk terjun langsung menyampaikan kepeduliannya.

Ya, kita mengenalnya sebagai Mbah Titik atau Titik Latifah Binti Kasyafi. Perempuan yang pekan lalu sempat menggegerkan dunia maya karena kemauannya yang kuat untuk menjadi bagian dari sukarelawan ojek gratis di tengah angkot mogok.

Perempuan kelahiran tahun 1944 ini memang memiliki semangat dan motivasi tinggi untuk menjadi bagian dari kelompok yang didominasi para pemuda itu. Meskipun bergabung di hari terakhir, tapi dia tetap bersyukur. Karena di usianya yang tak muda lagi, dia masih dapat membantu orang lain.

“Sedikit menyesal karena bergabungnya di hari Kamis (9/4), kalau gabungnya sejak hari pertama pasti banyak yang saya bantu. Tapi saya tahunya memang pas hari Rabu malam, dan berangkat turun lapangan keesokan paginya mulai jam
05.30 WIB,” katanya ketika ditemui dikediamannya di kawasan Jl. Sigura-gura Barat, Kota Malang.

Hatinya tergerak setelah mendengar kabar dari teman-teman pengajiannya yang terpaksa terlambat mengikuti majelis karena susahnya mendapat angkutan umum. Sementara dia, dapat datang sebelum pengajian dimulai karena memang mengendarai kendaraan pribadi.

Dari situ, ia pun teringat, bagaimana nasib anak sekolah. Pasti mereka akan sangat kesulitan, dan bukan tidak mungkin akan terlambat datang. Sehingga, ia pun memutuskan untuk terjun langsung dan mencari tahu titik bertemu para relawan ojek gratis.

Keluar dari rumahnya sejak masih petang, dia tak langsung mendapatkan seorang penumpang. Dia pun berusaha mencari titik temu lokasi para relawan. Sampai akhirnya, setelah makan siang ia datang ke Digital Lounge dan langsung bergabung.

“Padahal saya sudah mutar-mutar di situ, dan setelah tiga kali saya berhenti dan tanya ke petugas. Dan setelah tahu ini yang saya cari, saya pun masuk mendaftarkan diri,” ceritanya sembari tersenyum.

Menariknya, ketika pertama kali mendaftar sebagai driver ojek gratis, relawan lain sempat meragukan dan merasa terharu. Para relawan pun memeluknya dan meminta agar Mbah Titik tetap stay di Dilo dan membantu melakukan registrasi.

Namun ia tetap keukeh dengan pendiriannya untuk bisa menjemput penumpang yang terlantar. Pada akhirnya mendapat kesempatan untuk menjemput siswa sekolah di SMA 6 Kota Malang.

“Anak-anak itu awalnya seperti nggak percaya, malah meluk saya. Terus saya bilang gini, ‘apa ini, kalian melecehkan orangtua ya, saya masih mampu’, dan masih saja saya dipeluk,” kenang Mbah Titik. (ags)

Berikan tanggapan Anda

1 KOMENTAR

Balas

Please enter your comment!
Please enter your name here