Pengorbanan Irna Sasmita Putri Demi Menjadi Dokter
Irna Sasmita Putri

MALANGTODAY.NET – Irna Sasmita Putri, gadis yang menempuh pendidikan dokter di salah satu kampus di Kota Malang. Ia bercerita tentang perjalanannya menjadi mahasiswa.

Dulu waktu pertama kali masuk lobi kampus kedokteran, ia berfikir berbakal sibuk berkutat dengan buku-buku tebal dan praktikum segala macam. “Pikiranku waktu itu akan menjadi lebih sibuk dari siapapun. Ya itulah yang aku pikirkan sebelum benar-benar aku meyakinkan, bahwa aku memang mau jadi dokter,” ungkap gadis kelahiran 1994 itu.

Singkat cerita, dan sudah dipastikan bahwa ia diterima dan melalui berbagai macam diklat sebagai mahasiswi fakultas kedokteran. Berbagai macam buku pun dibeli dan fotokopi, e-book dan segala macamnya ia download. “Benar-benar kesibukan yang mulai kurasakan saat menjadi mahasiswa,” Sambungnya.

Membaca buku tebal, menjalani praktikum dengan cadaver atau mayat bisa jadi sudah lumrah bagi Irna agar skillnya terasah. Tidak hanya fokus dengan akademiknya, ia mencoba bergabung dalam organisasi kemahasiswaan. “Waktuku mulai terbagi dengan kesibukan organisasi. Tapi pengalamanku makin banyak karena aku bisa belajar diberbagai tempat gak cuman dirumah dan kampus,” ungkap cewek yang hobi ngedance itu.

Yang paling ia sukai adalah saat nongkrong di perpus sambil belajar sama anak-anak organisasi. Disanalah ia dapat pengalaman menarik saat ujian skill atau OSCE. “Disini setting aku jadi dokter beneran, yang harus menghadapi keluhan-keluhan pasien dan tindakan-tindakan medis harus dilakukan. Sebelum itu harus latihan dulu, lucunya waktu latihan ujian sirkumsisi atau bahasa awamnya sunat.” ujarnya tertawa.

Ia juga sempat menjadi tim medis bencana. Disana ia dituntut siap, sigap dan tanggap persis motto organisasinya. “Benar-benar awesome, terbesit rasa bangga dan penyemangat dihati kalau pasien kita sembuh dan senyum meski ditengah bencana. Belajar ditengah gunung? Itu juga sangat asyik. Waktu di semeru bersama teman-teman dari fakultas lain, kampus lain bahkan organisasi lain berkumpul melakukan reboisasi. Saat itu sekalian jalan-jalan naik gunung. Intinya dimanapun kita berada, selalu ada pembelajaran yang bisa diambil dan banyak pengalaman yang didapat. Karena pengalaman adalah guru yang berharga.” Ceritanya sebagai anggota Rescue.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here