Mbah Titin, Sukarelawan Tertua Sempat Diragukan Karena Usia
Mbah Titin, ketika ditemui dikediamannya (Pipit Anggraeni)

MALANGTODAY.NET – Mbah Titik atau Titik Latifah Binti Kasyafi sempat diragukan saat melamar sebagai salah satu relawan ojek gratis. Usianya sudah terlalu udzur, lahir tahun 1944, bisa dibayangkan.

Begitu melakukan registrasi, Mbah Titik diminta para panitia untuk duduk menunggu giliran. Tetapi rupanya, Perempuan yang tinggal di Jalan Sigura-gura itu tidak bisa bersabar untuk menguji kemampuannya.

Setelah sekian menit tidak juga dipanggil, akhirnya merasa gemes dan langsung mengambil motor dan berinisiatif berbaris bersama para relawan yang siap berangkat.

“Akhirnya saya masuk ke barisan 10 relawan yang dibutuhkan menuju SMA 6,” kata Mbah Titik saat ditemui di rumahnya belum lama ini.

Ketika menuju ke SMA 6, Mbah Titik sempat kehilangan jejak sembilan driver lainnya. Tapi dia tetap santai mencari jalan menuju sekolah yang dituju dengan bertanya pada orang di jalan.

Di tengah jalan, ia sempat hampir kehabisan bensin dan kemudian mampir di Pom Bensin dan melanjutkan perjalanan.

Akhirnya lega, setelah bertemu dengan sekolah yang dicarinya. Di sana kemudian bertemu dengan kesembilan driver lain yang memang tengah menunggunya.

Tak lama, para siswa pun keluar dari gerbang sekolah dan menawari setiap siswa yang tidak dijemput keluarganya untuk diantarkan. Sebagian memang merasa malu-malu, namun pada akhirnya ia mendapat seorang siswi yang mau diantarkan pulang.

“Mungkin saya minta nganternya terlalu memaksa ya. Jadi ketika ditanya mau diantar siapa? Eh siswi itu malah milih saya antar,” katanya sembari tertawa.

Siswi yang tak banyak bicara itu kemudian diantar ke rumahnya di Jl. Gatot Subroto. Sepanjang perjalanan, layaknya sebagai orang tua lainnya mengajak mengobrol.

Ia masih ingat betul, kalau siswi yang diantarnya itu terlihat malu-malu dan mengaku diantar oleh ibu selama angkutan mogok.

“Malamnya, saya mendapat pesan WA dari ibu siswi yang saya antarkan itu, mengatakan terima kasihnya kepada saya karena sudah mengantarkan puterinya. Saya pun sangat senang sekali mendengarnya,” jelas isteri almarhum Muhammad Ramli ini.

Setelah usai mengantar, sesuai instruksi ia kembali ke Dilo, tempat para relawan berkumpul. Di sana lagi-lagi diperlakukan istimewa oleh para relawan lainnya. Dia diminta beristirahat dan menikmati beberaoa hidangan yang disiapkan yang diperoleh dari kepedulian para masyarakat.

“Saya itu diberi nasi banyak sekali, sampai saya bawa pulang tiga bungkus. Padahal yang dibutuhkan hanya air saja,” urainya.

Perempuan yang aktif di kelompok Majlis Taklim ini sebelumnya merupakan pensiunan guru dari salah satu SMA di Bondowoso. Sejak masih mengajar ia memang selalu dekat dengan para siswa dan siswinya. Hal ini jugalah yang melatarbelakanginya untuk ikut menjadi bagian sukarelawan.

Mbah Titik mengaku tidak bisa membayangkan, betapa sulitnya beraktivitas di Kota Malang tanpa ada angkutan umum. Terutama bagi mereka yang memang tak memiliki kendaraan pribadi.

Titin juga memiliki cucu yang juga tengah duduk di bangku sekolah, sehingga begitu merasakan kesulitan itu.

“Dulu, semasa ada Tsunami di Aceh, saya sebenarnya juga sangat ingin ke sana. Tapi tidak bisa karena waktu itu suami sedang sakit,” urainya.

Kegiatan positif yang diinisiasi oleh para pemuda itu, menurutnya ke depan harus lebih banyak dilakukan. Kegiatan dan semangat positif harus digelorakan dan disebarluaskan agar semakin banyak yang bisa dibantu. (ags)

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here