Ilustrasi TNI berjaga malam (Tribunnews)
Ilustrasi TNI berjaga malam (Tribunnews)

MALANGTODAY.NET – Kisah mistis senantiasa takkan pilih-pilih akan kepada siapa ia melekat. Tak jarang, kisah ini sangat lekat dengan para tentara yang bertugas. Tentara yang biasanya ditugaskan menjaga keamanan di perbatasan maupun berlaga di medan perang setidaknya akan menemui hal mistis.

Salah satu kisah mistis di kalangan TNI datang dari pengalaman Letkol H AS Pas Hanandjoeddin saat berjuang meraih kemerdekaan RI. Seperti kisahnya yang tertuang dalam buku “Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H AS Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI’ karya Haril M Andersen.”

Kala itu pada Januari 1949, beberapa anggota Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) atau yang kini disebut TNI AU ditugaskan ke pedalaman Trenggalek, Jawa Timur. Sekelompok anggota tersebut berada di bawah nama pasukan Detasemen Udara Parigi yang dipimpin oleh Opsir Muda Udara III Hanandjoeddin.

Kisah mistis bermula dari strategi pasukan Detasemen Udara Parigi untuk menghambat pergerakan tentara Belanda. Diketahui saat itu Belanda memang baru saja menggencarkan Agresi Militer II (19 Desember 1948).

Strategi yang dilakukan pihak Hanandjoeddin adalah dengan memutus jembatan tua di Lembah Watulimo menggunakan peledak. Kemudian, Hanandjoeddin mengerahkan anak buahnya untuk melakukan percobaan peledakan.

Namun, percobaan tersebut tak kunjung membuahkan hasil. Akhirnya mereka kembali ke markas dan melaporkan kejadian tersebut kepada Hanandjoeddin.

Tentara kelahiran Bangka Belitung tersebut curiga dan akhirnya bertanya ke tokoh desa setempat. Benar saja, tokoh desa tersebut menyatakan bahwa jembatan tua yang akan diledakkan dilindungi oleh kekuatan gaib.

Sang tokoh desa kemudian menyarankan agar Hanandjoeddin berpuasa agar mendapat izin dari makhluk gaib yang melindungi jembatan tersebut.

Meski demikian, Hanandjoeddin tak mengikuti saran tersebut. Ia memilih datang sendiri bersama anak buahnya. Ketika hari mulai gelap, suasana mencekam di hutan Watulimo semakin terasa.

“Maaf, ndan (komandan) sebaiknya kita urungkan rencana malam ini,” ucap salah satu anak buah Hanandjoeddin, M Yahya.

Namun Hanandjoeddin tak gentar. Ia tetap akan pendiriannya untuk menghancurkan jembatan.

“Kalau kalian takut, kembali saja ke markas! Biar saya sendiri yang pergi ke jembatan!” tegasnya.

Mendengar kalimat itu, anak buahnya urung meninggalkan hutan. Namun sayang, tak berapa lama kemudian Hanandjoeddin menyadari bahwa para anak buahnya lari ketika melihat pasukan berbaris lengkap dengan seragam militer Jawa kuno dan pistol.

Kini, ia hanya sendiri dikepung pasukan gaib tersebut. Ia pun meminta perlindungan kepada Tuhan sembari meminta izin kepada sang penghuni kawasan tersebut.

“Assalamualaikum! Saya Hanandjoeddin, Komandan Pertahanan di wilayah Watulimo. Kami bermaksud baik menyelamatkan rakyat dan alam daerah ini dari penjajah Belanda. Bantulah perjuangan kami menegakkan kemerdekaan Indonesia. Saya yakin kalian di pihak kami karena perjuangan sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang, sejak zaman Sultan Agung Raja Mataram. Kami hanya melanjutkan cita-cita Beliau. Saya meminta kalian memaklumi kami memutus jembatan penghubung desa ini demi keselamatan rakyat Watulimo. Terima kasih atas pengertiannya, Assalamualaikum!”

Tak lama kemudian, pasukan ghaib tersebut lenyap. Keesokan harinya, Hanandjoeddin dan anak buahnya kembali melancarkan strategi peledakan jembatan. Hasilnya cukup mengejutkan, bom rakitan langsung meledak dan merobohkan jembatan pada percobaan pertama.


Penulis: Almira Sifak
Editor: Almira Sifak

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.