Kisah Azzam Dalam Hiruk-Pikuk Negeri Tirai Bambu
Mochamad Nuruz Zaman dan Prof. Nishino Setsuo (Azzam for MalangTODAY.net)‬

MALANGTODAY.NET – Mochamad Nuruz Zaman merupakan salah satu delegasi Indonesia dalam International Cultural Study di Nagoya University Japan yang diselenggarakan pada November 2016.
 
Lawatannya  ke Negeri Tirai Bambu tersebut, membuat pemuda yang akrab disapa Azzam itu dapat meneroka hiruk-pikuk kehidupan masyarakat Jepang secara lebih dekat.
 
Kepada MalangTODAY.net, Azzam membagikan sekelumit kisah terkait beberapa hal yang dapat dipelajari dari kebiasaan hidup warga Jepang, seperti sikap tertib aturan dan rasa sadar akan kebersihan lingkungan.
 
“Masyarakatnya sadar akan kebersihan lingkungan. Super sabar dalam antrian dan tetap patuh peraturan meskipun berdesak-desakan,” tuturnya.
 
Selain itu, warga setempat juga ramah dan perhatian meskipun orang tersebut hanya sekadar bertamu sebentar di negaranya.
 
“Di sana saya pernah tersesat, hampir tiap hari tersesat dari subway menuju hotel, luar biasanya, mereka selalu menghantarkan hingga ke hotel saya,” ceritanya.
 
Ketika disinggung terkait bedanya pelajar dan pemuda Jepang dengan Indonesia, Azzam menegaskan bahwa,
 
“Sebenarnya sama saja sih antara pemuda dan pelajar di Indonesia dan Jepang, hanya bagaimana mereka mengambil sikap dan olah mind set untuk selalu menjadi lebih baik.”
 
Azzam juga menceritakan bahwasanya, dunia pendidikan di Jepang itu benar-benar melek teknologi, yang membuat penerima Beasiswa Magister Pendidikan Indonesia dari LPDP Kemenkeu itu pun mendadak malu seketika itu.
 
“Rata-rata pelajar di Jepang kalau sekolah atau kuliah, tak pernah menenteng tas atau buku-buku yang gede dan berat. Di Jepang kan sudah canggih, semua ada pada HP dan Laptop mereka. Dunia pendidikan seakan digenggaman dia. Itu yang bikin unik dan bikin malu saya. Karena saya pakai tas  kuliah yang cukup besar, dengan isi tiga buku gede dan satu laptop. Rasanya kayak ketampar dengan kecanggihan teknologi, sementara kita masih ikut konvensional.”
 
Kendati demikian, Azzam menyadari bahwasanya setiap negara memang unik dengan caranya masing-masing.
‪”Tapi yang harus digaris bawahi adalah, setiap negara mempunyai kelemahan dan kelebihan dalam setiap sektor, khusunya pendidikan. Beruntungnya, di sana ternyata banyak pula universitas yang membuka jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Sastra Indonesia, dan Kajian Budaya Indonesia,” pungkasnya.‬

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

Balas

Please enter your comment!
Please enter your name here