Egi Suryana, Saat Singgah Dan Beristirahat Di Pom Bensin Jalan Diponegoro Kota Batu (azmy) Copy
Egi Suryana, Saat Singgah Dan Beristirahat Di Pom Bensin Jalan Diponegoro Kota Batu (azmy) Copy

MALANGTODAY.NET – Egi Suryana (40), petani karet asal Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Mesuji, Povinsi Lampung ini melakukan ekspedisi keliling Indonesia menggunakan sepeda Ontel (Onta).

Usai menempuh perjalanan selama 7 bulan lamanya terhitung sejak 21 Maret 2017, Egi telah berhasil sampai di kawasan Malang Raya. Hari ini Rabu (4/10) sekira pukul 17.00 WIB, ia tiba dan bersinggah di Kota Wisata Batu.

Ditemui di sela persinggahannya, kepada MalangTODAY ia berbagi tentang kisah ekspedisinya. Ekspedisi ini ditujukan untuk kampanye hemat energi fosil, sekaligus membudayakan lagi budaya bersepeda pancal.

“Motivasi saya keliling indonesia naik sepeda onta ini untuk mengkampanyekan penggunaan bahan bakar berlebih. Menghemat energi fosil dengan membudayakan kembali alat transportasi sepeda pancal,” ungkapnya kepada MalangTODAY, Rabu (4/10) malam.

Dalam misi kampanyenya dilakukan dengan cara berkunjung di lembaga pendidikan di tiap-tiap daerah yang disinggahinya. Ia akan memasuki SMP atau SMA untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan.

“Di setiap daerah saya mampir di sekolah-sekolah, kampanye hidup sehat dan hemat energi,” ungkap pria beranak satu ini.

Selain itu, ia juga menyempatkan mampir ke lembaga instansi pemerintahan untuk sekedar mengumpulkan tanda tangan atau stempel sebagai bukti otentik ekspedisi perjalanannya.

Kesinggahannya di Kota Batu bukan tanpa sebab. Dijelaskan Egi bahwa ia ingin melihat pohon Apel secara langsung sebagaimana dikenal publik nasional.

“Rencananya sih begitu, tapi kata orang-orang tadi medannya menanjak terjal untuk liat pohon Apel. Jadi liat besok saja, tergantung stamina saya,” harapnya.

Dari ekspedisi perjalanannya ini, ia berharap pesan, visi dan misi kampanyenya bisa tersampaikan pada masyarakat luas. Bahwa kemajuan zaman serba berteknologi canggih ini justru berpotensi menghabiskan energi di masa depan.

“Bukannya saya idealis, mikirnya kan bagaimana jadinya kalau nanti di masa depan energi kita habis, anak cucu kita kebagian apa,” terangnya.

Sebab itu selain berkampanye, Egi juga aktif menimba ilmu dalam membuat bahan bakar ramah lingkungan, seperti bio-ethanol atau biogas. “Saya ada belajar dari Surabaya dan daerah Kepanjen, Gedangan tentang pembuatan biogas dari kotoran sapi,” imbuhnya.

“Jadi, saya dapat pengetahuan dan pengalaman langsung. Sekaligus kenal keragaman budaya Indonesia secara langsung. Tidak seperti selama ini yang kenal cuman dari media dan buku saja,” pungkasnya.

Usai ekspedisi ini, ia berencana untuk membuat catatan kecil tentang perjalanannya. Termasuk mengimplementasikan teknis pembuatan bahan bakar ramah lingkungan.

“Setidaknya, kepulangan saya membawa bekal dan dampak positif di kampung halaman saya nanti,” harapnya.

Selama perjalanannya ini, dikatakan Egi hingga saat ini menuai apresiasi positif dari masyarakat. Meski ada selentingan negatif dari beberapa orang, hal itu tak menyurutkan tekadnya.

“Ya mungkin tetap ada yang berpikir negatif, anggap saya kurang kerjaan atau gimana. Alhamdulillah, saya belum merasa patah semangat di jalan, dalam kondisi capek luar biasa sekalipun,” ujarnya.

Egi memulai kampanyenya pada 21 Maret 2017 dengan hanya bermodalkan restu istri dan anak dan uang Rp 70.000.

Start dari Lampung, ia masuk Provinsi Sumatera Selatan, Jambi. Dilanjutkan menyeberang ke Pulau Jawa. Berawal dari Banten, hingga sampai di Jawa Timur.

“Rencananya nanti ini akan lanjut ke Pulau Bali. Terus ke NTB, NTT, Ternate, Ambon sampai nanti finishnya di garis khatulistiwa, Pontianak Kalimantan,” tutupnya.(azm/zuk)

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here