Era Modern, Hidup Muhsareh Tetap Optimis Jual Mainan Bambu
Muhsareh saat menjajakan dagangan di seputaran Kota Malang (Yoga)

MALANGTODAY.NET – Luar biasa dengan apa yang dilakukan Muhsareh, warga Gunung Kidul, Yogyakarta ini. Demi mengais rezeki, ia rela datang jauh-jauh ke Kota Malang. Dan apa yang dijual pria 54 tahun ini sepertinya cukup unik dan langka di zaman yang sudah modern seperti ini, yaitu mainan bambu.

Muhsareh mengaku sudah dikarunia tiga anak dan dua orang cucu. Namun dirinya tidak pernah menggantungkan hidup pada anak-anaknya. Justru masih mau meneteskan keringat menyusuri kota demi kota untuk berjualan berbagai jenis mainan tradisional.

“Saya jualannya keliling ke Malang hingga Banjarmasin. Semua yang saya jual berbahan dasar bambu, seperti gangsingan, seruling, kletekan dan peluit dengan beragam suara burung,” kata Muhsareh kepada MalangTODAY.net, Senin (13/2).

Tingkat kerumitan dalam membuat mainan-mainan itu, tak membuatnya mematok harga mahal. Semuanya berkisar antara harga Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per buahnya. Bahkan proses pengerjaannya pun dibuatnya sendiri di kediamannya di Yogyakarta.

Meski permainan itu sudah jarang diminati di era digital seperti ini, namun ia tak berniat untuk beralih ke profesi yang lain. “Saya dari dulu sampai sekarang ya tetap jualan ini mas. Saya tekuni jualan saja,” ungkapnya.

Setiap harinya, Mushareh berkeliling membopong dua dus mainan bambu dengan berjalan kaki berkeliling kota. Jika badannya terasa capek, akan beristirahat di pertokoan di mana nyaman untuk merebahkan tubuhnya.

“Kalau capek saya ya tidur di depan toko orang. Dari Jogja saya naik bus, nanti kalau ke Kalimantan naik kapal laut,” tambahnya.

Saat berjualan jauh, kakek dua cucu itu selalu membawa sekitar 100 buah mainan yang itu biasanya akan habis dalam kurun waktu satu minggu. “Kalau jualan di Malang, di Banyuwangi, di Banjarmasin seminggu bisa laku seratus. Nanti saya pulang dulu terus balik lagi,” jelasnya.

Menurutnya, orang-orang yang berjualan sepertinya sudah jarang, bahkan nyaris “punah.’  Kalaupun ada di luar kota Yogyakarta. Sehingga, dirinya memilih berjualan jauh karena untuk menghindari persaingan sesama penjual yang biasa mangkal di kota wisata itu.

Berikan tanggapan Anda

Balas

Please enter your comment!
Please enter your name here