Pergulatan Batin Janda dalam “Dua Tanda Kurung” Karya Handoko F Zainsam
Novel Dua Tanda Kurung karya Handoko F Zainsam @Istimewa

“Susana atau Yanti! Aku tak tahu mana namaku yang sebenarnya. Ingatanku pun lama pulih, mengejar, menangkap, dan menjaring, siapa aku sebenarnya. Susana atau Yanti aku ini?” Seseorang baru itu muncul mengisi tubuh perempuan semampai yang berdiri di depan pintu. Tyana!

Kehidupan adalah kesempatan untuk berbagi suka dan duka dengan orang lain dan mengenal orang lain. Hidup hanya sementara, karena itu lakukan apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup dan jalani sesuai dengan kehendak Tuhan. Hidup yang ketakutan, hidup yang penuh kekhawatiran, atau hidup yang bahagia dan damai, semuanya berada dalam genggaman tangan. Apapun yang terasa dalam kehidupan, maka diri sendiri adalah penggerak kehidupan yang juga ikut andil di dalamnya.

Baca Juga  Potret Kehidupan Kini, Antara Rokok, Cellphone dan Kemiskinan
Potret Perempuan dalam Novel Dua Tanda Kurung

Novel Dua Tanda Kurung adalah novel pertarungan seorang perempuan untuk menghadapi berbagai permasalahan hidup di tengah pergolakan politik, kehidupan seksual, dan tekanan nilai-nilai di masyarakat. Novel Dua Tanda Kurung juga merupakan novel pergulatan batin perempuan yang berusaha menjadi Jawa, di tengah pertarungan politik di sebuah desa terpencil. Labirin-labirin gelap dan menyesakkan terus berkelindan dan menjadi satu. Seksualitas lahir atas nama cinta, pengabdian, kewajiban, dan religiusitas. Pertarungan nilai-nilai yang harus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat menjadi etape atau tahap yang cukup menegangkan. Manusia tidak bisa dilihat secara hitam dan putih, terang dan gelap, baik dan jahat yang merupakan warna dasar dalam kehidupan. Sebagai dasar, hitam dan putih melahirkan warna-warni lain karena hitam dan putih mewakili kenyataan-kenyataan dalam kehidupan. Manusia memiliki dimensi yang kadang tak pernah diduga. Berlatar kehidupan keseharian masyarakat Jawa, Susiyantyana hadir dan mempengaruhi gerak rasa dan pikiran.

Novel Dua Tanda Kurung menceritakan pergolakan hidup Susana atau Susanti dalam menghadapi konflik yang dialaminya. Menggambarkan unsur kehidupan yang dialami oleh tokoh dan menyisipkan permasalahan sosial untuk membangun cerita. Pergolakan batin yang dialami tokoh seorang perempuan dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup, yakni ketidakmampuan untuk mengingat situasi yang menakutkan atau biasa disebut fobia dengan mengalihkan kesalahan kepada orang lain atau objek lain. Upaya tersebut guna pembenaran tingkah laku, bersikap seolah-olah pasrah dengan keadaan.

Pergolakan hidup perempuan yang dimaksud dalam novel adalah pergolakan hidup perempuan yang berusaha menemukan jati dirinya. Berbagai tekanan dan kekacauan psikologi dan karakter membuat tokoh kehilangan eksistensi atau keberadaan ke’aku’annya. Kemudian masuk pada tahap siapa sebenarnya aku? Susi, Yanti, Susanti, Tyana atau Susiyantyana yang memiliki riwayat hidup yang membuat siapapun terjebak dalam perjalanan hidupnya. Perempuan yang berusaha mejadi Jawa dengan konsep “Urip saderma nglampahi” atau hidup itu sekedar ‘keberanian dan strategi’ menjalankan. Perjalanan kehidupan tokoh utama inilah yang membuat ia harus menyiapkan diri masuk dalam pergulatan politik, sosial, budaya dan tekanan nilai-nilai di masyarakat. Seksual diimplementasikan atas dasar pengadian, totalitas, dan kasih sayang yang seluruhnya adalah tafsir cinta. Nilai-nilai falsafah Jawa diterjemahkan dalam sikap dan tingkah laku keseharian yang dibingkai dalam perbincangan yang sangat filosofis. Bait-bait puisi melengkapi tiap tokoh yang berperan dalam novel.

Baca Juga  Novel Anak Rantau, Berjuang Untuk Damai dengan Rasa Dendam
Kisah Sang Janda Menjadi ‘Jawa’

Yanti, seorang perempuan janda yang berpisah dengan suaminya karena perlakuan kasar yang diterima olehnya. Sejak berpisah dengan suaminya, Yanti membuka usaha warung kopi untuk kebutuhan hidupnya. Yanti menjadi bahan pembicaraan warga desa Pandansari kulon, banyak sekali omongan negatif tentang sisi-sisi kehidupannya. Dengan status yang membingungkan, janda belum tapi kalau disebut bersuami tidak ada. Suaminya hilang entah ke mana, masa jandanya masih remang-remang. Banyak orang melamarnya, namun semua ditolak. Entah setia atau trauma yang menyelimuti hati dan perasaannya.

Perempuan yang berusaha menjadi Jawa, saat segala macam tuduhan jelek yang didapatkan olehnya, tidak ia tanggapi dengan emosi. Semua diterimanya dengan sabar dan “sumeleh” mampu menata atau meletakkan hati dan jiwa. Sikapnya supel dan “sumeh” murah semyum, membuat orang cemburu dan berprasangka macam-macam. Apalagi dia membuka warung kopi dengan pembeli yang datang silih berganti, lebih kuat saja prasangka buruk itu. Warung kopi itu, bukan hanya untuk mengisi malam. Lebih dari itu, “bertransaksi” tawar menawar hingga terciptanya kesepakatan. Dari tempat inilah, berbagai macam kabar desa tersebar, bukan hanya kabar tentang desa, bahkan kabar percecokan keluarga juga bisa ramai diperbincangkan.

Yanti mengalami berbagai permasalahan yang membuatnya ingin pergi meninggalkan desanya dan melupakan semua yang terjadi. Dalam hidupnya, ia kerap lari dari kehidupannya dengan mengubah nama. Pada awal cerita ia dikenal dengan Yanti, seorang janda yang membuka warung kopi. Kemudian Susana, dan yang terakhir adalah Tyana. Seperti lingkaran karma saja, meski ia mengganti-ganti nama dan mencoba membuka lembaran hidup yang baru, ia tetap kembali pada kegelapan dan keresahan dalam kehidupannya.

Baca Juga  Degradasi Nilai-nilai Gotong Royong dalam Era Globalisasi
Karya Sastra Sarat Empati

Tersisipnya permasalahan sosial, tidak hanya sebagai tempelan saja tetapi sebagai unsur pembangun kehidupan dan alur cerita dalam novel, seperti pemilihan lurah yang membuat geger desa. Warga Desa Pandansari Kulon yang menyambut pergantian tampuk pemimpin, semakin menyorong lahirnya nuansa yang pengap dan gerah. Suara-suara yang membuat telinga merah lahir begitu mudah. Hati yang semrawut semakin menambah keliaran api kata yang keluar dari mulut warga yang berusaha menyampaikan aspirasinya. Teman bisa menjadi lawan, suami-istri bisa gaduh, dan saudara bisa pecah berantakan, saling mengunggulkan pilihannya. Yang pasti, ribuan warga terbawa arus tegangan tinggi pilihan lurah.

Novel “Dua Tanda Kurung” mengantar kita melihat pertarungan seorang perempuan dalam menghadapi pergolakan hidup, cinta, pengabdian, pengorbanan yang membuatnya menjadi perempuan. Selain itu membaca karya sastra juga mampu membangun dan meningkatkan imajinasi, mampu menganalisis untuk memperhatikan dan mempertanyakan detail dalam sebuah karya sastra. Lewat membaca karya sastra memungkinkan tumbuh rasa empati yang mengajak untuk menjadi karakter siapa saja. Karya sastra sebagai hiburan memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Hiburan yang diberikan adalah hiburan spiritual dan hiburan intelektual yang mampu menambah wawasan dan kekayaan pengalaman.

 

Dea Harumi Urbaningrum
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.