Polemik Taksi Online Kembali Memanas, Dishub Kekeh Larang Beroperasi
Ilustrasi transaksi online ©Money.id

MALANGTODAY.NET – Online atau daring menjadi sebuah keniscayaan dalam kehidupan masyarakat modern. Segala transaksi dan pelayanan apapun dianggap konvensional (baca: kuno) jika tidak atau tanpa sentuhan teknologi informatika.

Transaksi jual dan beli dari mulai makanan, minuman, kebutuhan pulsa dan semua pelayanan jasa, berpindah tempat ke ‘dunia maya’ dengan cukup dilakukan dari atas telapak tangan. Cukup dengan smartphone atau komputer yang terhubung dengan internet, segalanya bisa didapatkan.

Barangkali kondisi seperti sekarang ini tidak banyak terpikirkan oleh masyarakat pada puluhan tahun lalu. Kesimpulanya, teknologi telah mengubah segalanya, secara drastis pola pikir dan gaya hidup, bahkan kebudayaan manusia bergeser menjadi serba cepat dan instan.

Fenomena ini sudah terjadi dalam kehidupan masyarakat sekarang dan melanda semua kehidupan secara global. Dulu masyarakat desa cukup membawa alat pertanian saat pergi ke sawah atau ladang, tetapi sekarang sudah melengkapi diri dengan sebuah handphone.

Seorang pekerja bangunan punya jawaban mengejutkan, yang secara ekstrem mengaku lebih mementingkan pulsa dibanding sarapan. “Mending tidak sarapan pagi daripada tidak punya pulsa,” kata Anwar, seorang kuli bangunan di Lawang, Kabupaten Malang kepada penulis.

Online hasil karya informasi dan teknologi yang pada awalnya dianggap sebagai sebuah perkembangan teknologi biasa, hanya akan mempermudah kehidupan seperti banyak penemuan-penemuan sebelumnya. Tetapi terbukti telah mengubah segalanya, termasuk urusan menentukan pilihan antara makan atau pulsa handphone.

Anwar dan masyarakat lain pun tergopoh-gopoh dipaksa dalam kehidupan serba online, yang memang sejak semula dianggap serba memudahkan. Mereka ‘kaget’ ternyata pesan ojek atau membeli nasi pecel di ujung gang bisa dengan menggunakan android di genggaman tangan.

Tiba-tiba masyarakat berubah menjadi panik dengan urusan ojek dan membeli nasi pecel. Ojek dengan sentuhan online dianggap mematikan ojek atau transportasi lain yang masih dengan cara kuno. Adu argumen dan adu fisik terjadi, sepertinya semakin menunjukkan kekagetan mereka.

Pro dan kontra terus bergejolak antara setuju dan tidak setuju. Yang setuju berpendapat, hidup jadi mudah dan efisien. Sementara yang menolak berpikir akan mematikan penghasilan, sehingga tidak bisa mencari nafkah.

Negara juga ikut kaget, karena tidak punya cukup regulasi untuk mengaturnya antara yang online dan konvensional. Pemerintah pun akhirnya tidak bisa tegas menghadapi persoalan dan terkesan gagap.

Rhenald Kasali mengatakan bahwa perubahan menjadikan pertumbuhan dalam teori lama, tetapi sekarang perubahan dengan perpindahan menyebabkan pertumbuhan. Hidup manusia sekarang sudah dikendalikan oleh pulsa dan alat yang namanya handphone.

Siapa sesungguhnya penikmat hasil hidup sekarang? Tentu pemilik provider yang melayani pulsa dan segala paket data, salah satunya.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here