MALANGTODAY.NET – Meneroka mimpi Indonesia 2045 melalui acara seminar kebangsaan yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraaan Universitas Negeri Malang. Seminar bertajuk “Eksistensi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” yang mengadirkan Muhadjir Effendy dan Suwarno Winarno (Pakar Pendidikan Pancasila UM kala itu) sebagai pemateri. Permasalahan yang diangkat pada seminar (Selasa, 29/4/2014) kala itu adalah mengenai keberadaan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Materi yang dibahas dalam seminar dua tahun silam itu ternyata masih sangat relevan dengan fakta yang terjadi saat ini.

Belajar dari seminar yang dibuka oleh Pembina HMJ HKN-UM Rusdianto Umar, dimulai dari mengilhami berdirinya bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tidak terlahir dari ruang yang vakum. Bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika ini lahir dari kehendak Tuhan Yang Maha Esa, dengan usaha yang luar biasa pula. Salah satu yang diduga menjadi inspirasi berdirinya bangsa Indonesia ini adalah Amerika Serikat.

Melalui konsep Ernest Renan tentang nasionalisme dan terinspirasi dari moto Amerika Serikat, menjadikan bangsa Indonesia lahir bersama Bhineka Tunggal Ika. Moto E Pluribus Unum milik Amerika Serikat memang hampir sama dengan Bhineka Tunggal Ika milik Indonesia. Begitu pula dengan lambang Burung Garuda serta Sang Merah Putih yang diduga diilhami dari lambang E Pluribus Unum Amerika Serikat. Terlepas dari apa yang menginspirasi berdirinya bangsa Indonesia, permasalahan yang dihadapi bangsa ini sesungguhnya jauh lebih pelik, terutama yang berkaitan dengan bagaimana mewujudkan mimpi Indonesia 2045?

Bangsa ini bisa memulainya dari bersahabat dengan Pancasila. Bagaimana mereaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini memang bukanlah hal yang mudah dipertuntaskan, seperti ketika sedang membalikkan telapak tangan. Keberadaan Pancasila sebagai ideologi yang mencerminkan karakter bangsa ini seringkali diusik. Ironi sekali, bahkan dalam kurun waktu yang lalu, dengan mudahnya sekolah internasional JIS bisa berdiri tanpa izin, yang dalam proses kependidikannya ternyata tidak mengenalkan Pancasila maupun Pendidikan Kewarganegaraan bahkan Bahasa Indonesia seperti dikesampingkan, hingga sekolah tersebut terlibat kasus pelecehan seksual.

Dunia pendidikan yang digadang-gadang menjadi obyek pamungkas bagi internalisasi ideologi bangsa seperti dikalahkan oleh usaha mencerdaskan “otak” saja. Dunia pendidikan masih terpaku pada orientasi Calistung(baca: baca-tulis-hitung) saja, padahal memupuk rasa sadar akan sejatinya manusia Indonesia itu sangat diperlukan. Peserta didik hendaklah bersahabat dengan Pancasila. Pendidik dan peserta didik tidak boleh hanya berfokus pada aktivitas akademik saja, karena bangsa ini membutuhkan karakter, identitas dan kepribadian yang kuat berdasarkan Pancasila.

Bagaimana bangsa ini ingin melihat mimpi emas 2045 sedangkan Pancasila saja dianak tirikan? Berapa banyak peserta didik di negeri ini yang antusias dan tidak terlelap saat belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan? Berapa banyak public figure di negeri ini yang sekadar menyebut kata “Pancasila” dalam setiap lawatannya. Mirisnya dukungan dari dunia pendidikan, ditambah lagi kurangnya kepedulian beberapa pihak justru hampir membuat Pancasila terancam punah. Pancasila boleh saja hampir tenggelam, tetapi, suatu keajaiban yang mungkin Tuhan berikan bahwa Pancasila itu kuat.

Sebelum tenggelam lebih jauh, marilah memasyarakatkan Pancasila, marilah kembali bersahabat dengan Pancasila serta berkomitmen pada “Catur Prasetya Karsa Tunggal yaitu Pancasila, NKRI, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan Bhineka Tunggal Ika,” sebagaimana diungkapkan Suwarno Winarno agar Bangsa Indonesia bisa melihat mimpi emas 2045.

 

Penulis: Agustina Puji L,

Loading...