Kyai Mashuri
Kyai Mashuri @ist

MALANGTODAY.NET – Bulan Agustus menjadi bulan peringatan dan rasa syukur atas kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelah beberapa ratus tahun Indonesia dijajah, hingga pada akhirnya 17 Agustus 1945 Indonesia mengumumkan kemerdekaannya.

Tidak banyak yang tahu bagaimana pahit getirnya hidup selama penjajahan. Kyai Mashuri adalah saksi hidup masa penjajahan yang dahulu berpangkat mayor, ia ikut berperang melawan penjajahan.

Kisah-kisah memilukan pun dibeberkan detail oleh beliau pada santri Pesantren Ilmu Al-Quran di Singosari. Salah satunya adalah Kyai Tamin, yang namanya di abadikan sebagai nama jalan di Kota Malang. Kyai Tamin sangat anti dengan perilaku Jepang menindas masyarakat Indonesia, ia juga menolak ketika dipaksa menunduk menyembah matahari.

Tidak lama kemudian, Kyai Mashuri melanjutkan jika Kyai Tamin diculik oleh pasukan Jepang, di seret dari daerah Kidul Pasar sampai Mergan tanpa pakaian dan sepanjang perjalanan disiksa dengan besi panas hingga meninggal dunia.

“Suatu hari para santri Singosari pernah melakukan tahlilan dan berkumpul di salah satu rumah warga, kemudian Belanda datang dan membubarkan jamaah tahlil tersebut, Belanda gagal paham atas kegiatan tersebut dan memukuli satu persatu kepala santri karena dituding upaya pemberontakan kepada pemerintahan Belanda, semua serba di awasi oleh kuasa kolonial,” ujar Kyai Mashuri mengisahkan masa pendudukan Belanda.

Di akhir ceritanya tersebut ia berpesan kepada generasi muda agar senantiasa mengingat perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

“Sejarah pedihnya masa penjajahan memang sudah berlalu, sekarang sudah merdeka, tapi tetap jangan pernah melupakan jasa pahlawan kemerdekaan, berkat beliau-beliau negara ini bisa merdeka hingga saat ini,” pungkasnya.

Untuk diketahui Kyai Mashuri adalah salah satu saksi atas perjuangan masa lalu bangsa ini, ia adalah santri Kyai Alwi yang kemudian menjadi tentara karena intruksi gurunya untuk melawan penjajahan dan penindasan.

Ia berasal dari Desa Wajak Kabupaten Malang dan salah satu pejuang yang selamat dari perang dan hidup hingga saat ini, beliau lahir pada 1902 atau berusia 115 tahun.(zuk)

Penulis: Gus Sanny Al Ishlahiyah

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here