Degradasi Nilai-nilai Gotong Royong dalam Era Globalisasi
penulis opini, Muh. Rheza @MalangTODAY/rheza

“Apakah kelemahan kita adalah kurang percaya diri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri dan kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah rakyat gotong royong.” (Soekarno)

Paradigma yang disampaikan oleh Bung Karno di atas sebagai konstruksi ide yang mengenalkan jati diri kita sebagai bangsa yang berbudaya. Gotong royong dianggap sebagai budaya dan pilar yang melandasi bangsa ini. Sehingga, nilai-nilai gotong royong perlu kita jaga sebagai identitas bangsa yang melandasi semangat perjuangan dan persatuan bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang multikultural. Keberagaman budaya yang ada di Indonesia menjadi intrik dan identitas yang melekat pada masyarakatnya. Keramahan bangsa Indonesia menjadi daya pikat untuk masyarakat dunia. Selain keramahannya, sikap toleransi dan semangat persatuannya cukup membuat bangsa ini dipandang sebagai bangsa yang berbudaya. Dan budaya yang selama ini menjadi pilar persatuan Indonesia ialah budaya gotong royong.

Namun, Budaya gotong royong perlahan terkikis dan hilang ditengah arus era globalisasi. Gengsi sosial dan life style menjadi budaya trend yang membuat budaya gotong royong hilang di tengah-tengah masyarakat perkotaan. Seperti, budaya gotong royong membersihkan selokan dan masjid.

Pola hidup masyarakat  modern ternyata berdampak pada peradaban dan budaya yang ada di Indonesia. Tetapi, sekelompok masyarakat di pedesaan ternyata masih ada yang memegang teguh nilai-nilai gotong royong tersebut. Seperti, di Sulawesi Selatan tepatnya suku Bugis-Makassar ketika membangun rumah kayu masih mementingkan nilai kebersamaan dan gotong royong. Rumah dibangun secara bersama-sama dan suka rela. Gotong  royong menjadi jembatan silaturahmi untuk mempererat persaudaraan.

Tetapi, nilai-nilai gotong royong itu belum dipahami secara mendalam oleh para generasi muda sekarang. Sehingga, gotong royong mengalami proeses degradasi di tengah kehidupan sosial masyarakat.

Mahasiswa selayaknya  membudidayakan gotong royong sebagai identitas bangsa Indonesia. Hal tersebut bisa dimulai dengan menjaga keberagaman dan solidaritasnya. Konsep ide dan gagasannya dalam dunia pendidikan sebagai akademisi sangat diperlukan agar bisa bersinergi dengan pemerintah membangun negeri ini.

Tetapi, mahasiswa saat ini  tumbuh menjadi generasi yang  ‘cengeng’ dan perusuh. Konflik tawuran terkadang menjadi budaya yang membuat mahasiswa mengalami proses demoralisasi. Sehingga, merusak jati dirinya sebagai kaum intelektual. Padahal, mahasiswa sebagai kaum akademisi memiliki tanggung jawab bersinergi dengan siapa saja untuk membangun negeri ini agar menjadi bangsa yang kuat dan identitasnya tetap terjaga di mata dunia.

Budaya gotong royong harus dihidupkan dalam kehidupan sosial. Karena, manusia sejatinya tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Penanaman nilai-nilai gotong royong bisa dimulai dari sekarang.

Di sekolah, guru sebaiknya membiasakan siswa bergotong royong dalam segala hal demi mengenalkan nilai-nilai budaya gotong royong tersebut. Agar, siswa kelak tumbuh menjadi generasi yang bisa saling bekerja-sama dan bahu membahu membangun negeri ini.

Nilai-nilai gotong royong secara umum sudah dijabarkan di dalam  Pancasila pada sila ke 3 “Persatuan Indonesia”. Ikrar tersebut selayaknya menjadi sebuah acuan agar kita selalu membina kerja sama untuk mempererat persaudaraan demi mewujudkan cita-cita yang ada di dalam sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Pola hidup individualisme juga menjadi pemicu hilangnya nilai-nilai gotong royong di dalam masyarakat. Kesadaran untuk saling membantu dan bekerja sama dalam kehidupan sosial masyarakat berubah menjadi pola hidup matrealisme. Segala sesuatu pekerjaan diukur dengan materi.

Padahal, budaya gotong royong memiliki banyak manfaat  ketika diterapkan dalam kehidupan sosial masyarakat. Selain untuk mempererat kerja sama dan persaudaraan, budaya gotong royong akan mempererat toleransi atas keberagaman multikultural kita. Seperti perbedaan ras, agama, dan status sosial lainnya di dalam masyarakat agar tidak ada diskriminasi sosial.

Problema yang dihadapi bangsa Indonesia saat  ini, seperti konflik budaya dan agama dipicu kurangnya rasa toleransi dan semangat  kerja sama atas perbedaan itu. Masyarakat Indonesia sekarang sangat gampang disusupi paham dan idealisme tertentu yang dapat memecah persatuan bangsa Indonesia. Sehingga, timbul berbagai macam kubu dan kelompok-kelompok tertentu dengan idealismenya tersendiri.

Maraknya gerakan-gerakan dari organisasi yang mengatasnamakan agama dengan paham dan alirannya berpotensi menjadi gerakan radikal yang dapat mengancam persatuan dan persaudaraan antarsesama bangsa Indonesia. Maka dari itu, sikap persatuan harus tetap dijaga dengan membina kerja sama dan gotong royong dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Semangat perjuangan dan rasa persaudaraan  para pendahulu negeri ini tak lagi dimiliki generasi bangsa saat ini. Hingga, tak jarang kita menyaksikan para pemimpin negeri ini saling tuding dan curiga. Seperti, pada saat sidang kabinet di DPR. Para wakil rakyat sering kali saling memaki karena memiliki ide dan gagasan yang berbeda.

Padahal, mereka memiliki tugas dan tanggung jawab menyatukan konsep dan idenya untuk bahu membahu membangun negeri ini. Hal tersebut telah menandakan  hilangnya semangat kerja sama dan semangat gotong royong yang harusnya dimulai dari pemimpin negeri ini.

Menyikapi fenomena proses degradasi nilai-nilai  budaya gotong royong di dalam masyarakat, maka pemerintah tidak boleh berpangku tangan dalam hal ini. Pemerintah harus menghidupkan kembali budaya gotong royong dengan cara mengajak masyarakat saling bekerja sama dalam kehidupan sosialnya.

Dalam pemerintahan khususnya di desa, kepala desa seharusnya memiliki kurikulum kerja tersendiri yang menjadikan gotong royong sebagai kegiatan desa yang ruting di lakukan. Masyarakat harus dibiasakan saling bekerja sama hingga rasa persaudaraan itu tetap tumbuh dan menjaga nilai-nilai budaya gotong royong sebagai identitas bangsa. Pemerintah dalam bidang pendidikan, harus menerapkan nilai-nilai gotong royong dalam kurikulum pendidikan sebagai materi pembelajaran.

Sehingga, nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan kepada peserta didik untuk membentuk karakternya menjadi generasi yang dapat menjaga martabat dan integritas tanah air tercinta,  Indonesia.

*Penulis : Muh. Rheza Aditya

Mahasiswa Sarjana S1 Teknik Sipil, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here