Beberapa giat edukasi kopi oleh Komunitas Rebak Kedaulatan, salah satunya pendampingan petani kopi di lereng gunung, Parangtejo, Dau. (Istimewa)

MALANGTODAY.NET – Membincang seputar kopi tentu tak habis hanya seputaran kopi layak minum di kedai-kedai. Di luar itu, ada hal yang sering terlupa, yakni apresiasi terhadap jerih payah petani kopi. Seperti yang dilakukan oleh komunitas Rebak Kedaulatan, yang aktif melakukan pendampingan petani.

Salah satu penggerak Rebak Kedaulatan, Nagarjuna mengatakan, membincang kopi adalah membincang luka. Bicara tentang luka dalam sengkarut kopi Indonesia adalah soal keringat dan air mata para petani.

“Dalam bahasa sajak, kami menyebutnya semacam menyeduh tangis, meminum air mata petani kopi,” tuturnya kepada MalangTODAY, Minggu (16/7).

Nagarjuna melanjutkan, kualitas biji kopi terbaik Indonesia lahir dari mata rantai sejarah yang panjang dari para petani. Namun tetap saja, capaian ini tidak dibarengi kondisi petani ikut kunjung membaik.

Disebutkan Nagarjuna, masih banyak dijumpai para petani yang buta informasi soal sengkarut dunia kopi dari hulu ke hilir, dari biji kopi yang dipanen hingga menjadi secangkir kopi. Kondisi tersebut, menurutnya merupakan tanggung jawab bersama.

“Nasib mereka selama ini akibat ketidakpedulian kita semua, sehingga kalo kita biarkan maka akan jadi dosa kolektif. Sehingga, rebak kedaulatan ada untuk itu,” ungkap matematikawan ini.

Rebak Kedaulatan, dijelaskan Nagarjuna, merupakan komunitas nirlaba yang aktif sejak 2015, fokus bergerak dalam bidang kopi. Komunitas ini menjadi salah satu pionir dan penggerak artisan kopi hingga pecinta kopi untuk melakukan gerakan nyata, salah satunya melalui giat edukasi.

Bagi mereka, kopi tidak hanya berkisar soal secangkir kopi berkualitas. Kopi dalam artian Rebak Kedaulatan, dipandang menyeluruh secara holistik, memiliki dimensi dan tataran budayanya tersendiri. Sebab itu, perlu adanya giat kebudayaan melalui kelas, workshop literasi dan lain-lain.

Giat edukasi seputar kopi oleh Rebak Kedaulatan meliputi wawasan pendampingan petani, studi ekologi kopi, proses sangrai, seduh hingga proses pemetikan buah kopi langsung di kebun kopi hingga bursa perdagangan kopi di pasaran.

“Semua kita kemas lewat jalur pendidikan nir-formal, kita bikin kelas termasuk berikan pengalaman secara langsung di lapangan di kebun milik anggota keluarga petani se-Malang raya,” tuturmya.

Giat pendampingan, tambahnya, hanya satu bagian dari misi Rebak Kedaulatan. Pendampingan tidak cukup hanya dilakukan sekali dua kali, harus konsisten dan terus menerus.

Melalui kelas yang diadakan oleh rebak kedaulatan, diharapkan Nagarjuna, anggota keluarga dapat membawa pulang memori kolektif di rumah masing-masing.

“Merasakan langsung proses berkehidupan petani kopi. Merasakan luka dan jerih keringat mereka,” tandasnya kepada MalangTODAY, Minggu (16/7).(azm/zuk)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.