Wayang Potehi, Kesenian Berusia Tiga Ribu Tahun Bakal Dipentaskan Di Klenteng Eng An Kiong
Wayang Potehi

MALANGTODAY.NET – Wayang Potehi, kesenian dengan usia lebih dari tiga ribu tahun itu gaungnya saat ini memang tidak terlalu santer diperdengarkan. Tapi beruntung, Klenteng Eng An Kiong tahun ini kembali mementaskannya dalam rangka perayaan Imlek yang jatuh pada 28 Januari mendatang.

Pementasan wayang yang berasal dari Tiongkok itu memang bukan yang pertama kali diselenggarakan di Klenteng tertua di Malang ini. Terakhir, tontonan itu disuguhkan pada 2011 dan sudah menarik banyak kalangan. Tapi sayangnya, semakin tahun kesenian ini banyak terkikis.

“Itu sebabnya tahun ini kami kembali menyuguhkan pertunjukan Wayang Potehi, disamping memang ada permintaan juga,” kata Humas Klenteng Eng An Kiong, Anton Triyono, pada Media beberapa saat lalu.

Menurutnya, Klenteng bukan hanya sebagai tempat untuk beribadah. Melainkan juga salah satu tempat berkumpulnya masyarakat, terutama dalam melestarikan budaya. Sebab jika dilihat, di Kota Malang sendiri belum ada wadah untuk Wayang Potehi. Sehingga perlu yang namanya pementasan untuk memperkenalkan kepada para generasi baru.

“Wayang Potehi nanti akan dipentaskan pada 23 Januari,” tambah pria yang akrab disapa Bunsu Anton ini.

Sementara yang akan menjadi dalang dalam pementasan tersebut, lanjutnya, berasal dari Klenteng Hong San Kiong, di Desa Gudo, Jombang. Sebab klenteng tersebut, merupakan salah satu klenteng di Jawa Timur yang konsentrasi dalam pelestarian Wayang Potehi. Bahkan, di sana juga memiliki museum khusus Wayang Potehi.

“Akan ada enam dalang yang terlibat, dan pementasannya dalam dua sesi, pukul 15.00 WIB dan pukul 19.00 WIB,” beber pria ramah ini.

Sementara terkait jalan cerita yang diangkat, dia menyebutkan masih belum diketahui. Sebab sampai hari ini, datang yang bersangkutan masih belum hadir di Malang.

Kalau tahun lalu, lanjutnya, cerita yang diusung tentang tokoh nyata Sam Kok dan Shin Ji Sui. Kisah tersebut menceritakan tentang perang saudara yang tak kunjung selesai. Meskipun mereka ini bersaudara tetapi mereka berperang karena ketidak cocokan pendapat.

“Yang diangkat bisa banyak, ada cerita tentang kepahlawanan, cerita tentang seorang petani yang miskin, dan lain sebagainya,” urainya panjang.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here