Terkait Daya Saing Bangsa, Ini Kata Kemenristek Dikti
MalangToday.net adalah media online di Kota Malang yang menyuguhkan berita dengan benar

MALANGTODAY.NET – Bertempat di gedung pasca sarjana Universitas Islam Malang, Rabu (19/10), Menteri Ristek, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI (Menristekdikti) Mohamad Nasir didaulat sebagai pemateri sarasehat. Dengan mengusung tema, ‘Peran Strategis Perguruan Tinggi Dalam Meningkatkan Daya Saing Bangsa’, Sarasehan yang juga turut dihadiri Rektor Unisma ini berlangsung meriah.

Dalam pemaparannya, Nasir menyebutkan, Indonesia saat ini masuk dalam era persaingan. Sehingga, perlu dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya saing, baik secara nasional maupun internasional. Guna meningkatkan daya saing itu, Kemenristek pun terus berupaya mendorong terciptanya daya saing.

“Tapi semua pihak harus saling bersinergi, sehingga terbentuk keselarasan yang berujung pada kemampuan daya saing,” katanya.

Dia menyebutkan, hasil survei yang baru saja dilaunching World Economy Forum melalui Indeks Persaingan Global menunjukkan, Indonesia mengalami penurunan peringkat. Di maba pada tahun 2013 Indonesia menempati posisi 37 dari 141 negara. Sementara saat ini, Indonesia berada diperingkat 41.

Menurutnya, penurunan daya saing ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama tingkat korupsi yang semakin tinggi. Sehingga, persaingan dengan negara lain pun mengalami penurunan akibat dari praktik yang tidak baik ini. Saat ini, Tanah Air juga terus berupaya memerangi korupsi melalui berbagai upaya.

“Salah satunya ya Program Saber (Sapu Bersih) yang baru saja diterapkan Presiden Jokowi untuk menghapus semua praktik pungli,” paparnya.

Penyebab kedua, lanjutnya, regulasi pemerintahan yang secara otomatis mengurangi kepercayaan bangsa lain untuk bekerjasam dengan Indonesia. Sebab, birokrasinya dianggap mengalami kebobrokan. Tak jarang investor yang datang ke Indonesia dan merasa kecewa.

Selain itu, faktor penyebab kemunduran daya saing ini menurutnya disebabkan infrastruktur yang kurang memadai. Beberapa wilayah pun sangat susah untuk dijangkau. Padahal, ada banyak potensi yang seharusnya digali lebih dalam lagi.

“Di luar negeri, jarak 600 kiloneter bisa ditempuh hanya dalam 2,5 jam, Indonesia, menempuh jarak 700 kilometer selama sembilan jam. Inilah yang harus kembali dibenahi untuk meningkatkan daya saing,” jelas Nasir. (ind).

Berikan tanggapan Anda