Struktur Panggung Dari Jaman Belanda ditemukan di Aula Bersama SMA Tugu Malang
Struktur panggung buatan Belanda yang berada di Aula Bersama SMA Tugu Malang @MalangTODAY

MALANGTODAY.NET – Kota Malang memiliki banyak peninggalan bersejerah, mulai zaman kerajaan hingga penjajahan Belanda dan Jepang. Salah satunya yang bisa dilihat adalah struktur panggung buatan Belanda yang berada di Aula Bersama SMA Tugu Malang.

Agung H Buana, Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang menjelaskan, ruangan bawah tanah yang disebut-sebut sebagai bunker peninggalan Belanda, sebenarnya bukan bunker. Tempat itu adalah struktur bangunan panggung yang dibuat ketika penjajahan Belanda.

“Jadi berdasarkan penelusuran dan penelitian dari TACB, lorong bawah tanah yang ada di Aula SMA Tugu ini bukan bunker melainkan bagian dari kontruksi panggung. Tidak ada mengarah ke Balaikota, karena seperti kita cek bersama lorong itu mentok di SMA 4,” terang Agung yang juga Kasi Pemasaran Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbupar) Kota Malang beberapa saat lalu.

Sementara Budi Fatoni, Dosen Perencanaan Tata Kota Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menjelaskan, lorong tersebut memiliki 4 ruangan dengan panjang lorong pertama 145 Cm, lorong kedua 185 Cm, dan lorong ketiga 165 Cm.

Tinggi lorong dari permukan tanah 110 Cm dengan tinggi tiap pintu 70 Cm. Paling ujung juga terdapat fentilasi sebanyak 7 lubang dengan lebar 50 Cm.

“Jadi ini bukan bunker karena ketinggiannya. Syarat dikatakan rumah bawah tanah harus bisa dilewati manusia saat berdiri tapi ini kan tingginya hanya 110 cm. Jadi jelas bukan bunker,” terang Budi.

Sejarah SMA Tugu dahulunya merupakan Holand Indish School (IHS) atau sekolah Belanda yang didirikan sekitar tahun 1921 untuk bangsawan pribumi dan juga pegawai. Kemudian saat penjajahan Jepang, sempat juga dijadikan tempat penahanan bagi warga Belanda yang menjadi tahanan Jepang bahkan juga menjadi tempat eksekusi tahanan kala itu.

“SMA Tugu itu memang didirikan sejak tahun 1921 ketika zaman penjajahan Belanda, sebagai sekolah Belanda. Kemudian saat Jepang masuk menjadi tempat penahanan warga Belanda yang masih ada di Indonesia, jadi tidak heran jika di kawasan ini banyak peninggalan Belanda maupu Jepang,” terang Muhamad Antik, Pengurus Jelajah Jejak Malang (JJM).

Sementara itu Budi Prasetyo, Kepala SMA Negeri 4 Malang membenarkan jika kawasan SMA 4 memang masih banyak peninggalan Belanda, bahkan beberapa tidak diubah bentuk bangunannya.

“Di sini memang banyak bangunan peninggalan Belanda yang tidak kita ubah, bahkan mengenai terowongan di aula itu juga masih ada, namun memang kita belum tahu sejarahnya,” ujar Budi.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here