MALANGTODAY.NET  – Peninggalan masa lalu kejayaan Singhasari yang terserak di berbagai tempat banyak yang tidak terawat. Salah satunya adalah situs Kemuning.

Situs Kemuning terletak di Dusun Kemuning, Desa Kranggan, Kecamatan Sumber Pucung. Sekitar 18 kilometer dari Kota Kepanjen, Kabupaten Malang. Terletak di ujung Desa Kemuning dengan pepohonan yang rindang dan dikelilingi hamparan sawah yang subur, dengan dilatarbelakangi Gunung Kawi yang legendaris itu, membuat panorama di situs sisa tempat suci agama Hindu itu tampak indah.

Situs Kemuning biasa dikenal dengan sebutan “Prasasti Kranggan”. Prasasti Kranggan mengacu pada Desa Kranggan, sedangkan situs ini berada pada Dukuh Kemuning. Menurut sejarawan Dwi Cahyono, Prasasti Kranggan ini sayang sekali tak lagi bisa dibaca tulisannya. Prasasti yang didirikan tahun 1178 saka ini terletak pada tanah gundukan bersemen di bawah pohon besar.

Menurut dosen sejarah di Universitas Negeri Malang itu, situs Kemuning atau Prasasti Kranggan ini memiliki peran penting pada zamannya. Dapat ditafsirkan sedikit, dengan adanya prasasti Kranggan tersebut berarti menandai sebuah tanah berstatus sima atau tanah perdikan, yakni tanah atau daerah bebas segala pajak yang terjadi karena jasa masyarakatnya pada negara.

Saat ini penduduk berusaha menyelematkan aksara dalam prasasti tersebut dengan menggunakan kain sebagai penutup. Selain fungsi melindungi dari lumut yang tumbuh, kain penutup juga diberikan untuk merawat tuah mistis di dalamnya. Begitu yang diungkapkan Mbah Mun, salah satu penduduk yang ditemui MALANGTODAY.NET.

“Kain putih ini selalu diganti oleh peziarah yang ketika melakukan tirakat laku untuk berbagai kaul (keinginan),” ujar mbah Mun.

Menurut penuturan juru kunci situs Kemuning, Mbah Salam (61 tahun), gundukan tanah (2x3x0,6m) yang menjadi tempat berdirinya prasasti Kranggan ini merupakan makam Mbah Suko.

pembantu-penjaga-situs

 

Tak jauh dari tempat tersebut, terdapat tanah yang dipagari batu bata dan pagar bercat hijau yang dianggap  sebagai petilasan Mbah Mintorogo, leluhur Desa Kemuning. Menurut penduduk setempat, pada pinggiran makam Mbah Suko ini dulunya diberi sabuk bata merah yang berelief, sayangnya karena ketidakmengertian penduduk, relief tersebut kemudian ditutup dengan semen.

yoni

 

Sayang sekali, segala keindahan dan nilai kejayaan masa silam itu kini tampak tidak terawatt, dan kurang mendapat perhatian dinas terkait.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda