MALANGTODAY.NET – “Setelah 26 tahun wafat, buku yang mengupas tuntas kehidupan R.S.Soekanto Tjokrodiatmojo hadir,” ungkap Peneliti sejarah Pusat Studi Budaya dan Laman Batas Universitas Brawijaya Malang, F.X Domini B.B Hera, dalam seminar dan bedah buku Jejak Peletak Dasar Kepolisian Jenderal Polisi R.S Soekanto Tjokrodiatmodjo dan Relevansinya Terhadap Reformasi Kultural Polri.

Menurutnya, pengalaman Soekanto dati era kolonial hingga pendudukan Jepang, menjadi modal yang ia kenakan dalam memahat sejarah kepolisian RI. Selama 14 tahun ia mengabdi sebagai Kapolri pertama, dan melewati masa tersulit dalam perjuangan front-front pertempuran maupun delegasi dalam perundingan.

“Dimasa awal jabatannya, ia harus menerima gempuran dari pihak Belanda yang ingom merebut Proklamasi 17 Agustus 1945,” terangnya.

Pria yang akrab disapa Sisco ini menambahkan, kerja keras Soekanto dalam mengemban tugas mulia itu sangat patut menjadi teladan. Karena sejak menjabat sebagai Polri pertama, ia harus merubah watak polisi di era kolonial Belanda dan pendudukan Jepang menjadi polisi berwatak Indonesia.

Dia menambahkan, Polri dan Republik Indonesia bersyukur memiliki peletak dasar kepolisian moden seperti Jenderal Soekanto. Pria kelahiran Bogor yang terus hidup dengan visinya bagi Polri dan pelayanan untuk segenapbrakyat Indonesia ini sudah sepantasnya menjadi pahlawan nasional.

Sementara itu, Komjen Pol (Purn) Drs Ahwil Lutan, S.H, MBA, MM yang juga turut terlibat sebagai editor dalam penulisan buku tersebut menambahkan, ada banyak keteladanan dari seorang Jenderal Soekanto untuk diterapkan di hari ini dan masa mendatang. Karena selama menjadi polisi, ia benar -benar mengandikan dirinya untuk negara, tanpa ada embel-embelnya.

“Beliau itu, sama sekali tidak takut jabatannya dicopot, sekalu memiliki pemikiran yang independen. Kalau sekarang kebanyakan mikirnya pasti lebih mementingkan jabatan,” paparnya.

Semasa menjabat jadi Polri, lanjutnya, Soekanto berada pada masa yang sulit. Pergantian kabinet yang berkali-kali hingga perdana menteri yang silih berganti, yang artinya banyak juga pergantian, dan membuat beberapa pemangku negara pasti merasa takut kehilangan kedinasan dan jabatannya. Tapi beda dengan Jenderal Soekanto, yang mampu bertahan dan dipercaya oleh banyak kementerian.

“Sifat seperti inilah yang perlu untuk dicontoh dan diteladani, untuk kepentingan organisasi kepolisian dan lainnya,” terangnya.

Tak hanya itu, ia juga menyebutkan, berbagai pemikiran yang dibuat semasa Jenderal Soekanto menjabat juga bermanfaat untuk polri di masa sekarang. Salah satunya keyakinannya memiliki perwira yang berlatar belakang akademis.

Dengan bantuan Prof Supomo dan Prof Joko Sutono, Jenderal Soekanto pada tahun 1946 pun mendirikan Polisi Akademi, yang kemudian berkemban menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian pada 1950. Perguruan ini menjadi lembaga yang menempa pemimpin-pemimpin Polri di masa depan.

“Sekarang masih dalam proses pengajuan belia sebagai pahlawan nasipnal, karena anak buahnya saja sudah mendapat gelar itu. Sementara Jenderal Soekanto masih belum mendapatkanny,” pungkas Ahwil.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda