MALANGTODAY.NET –  Meski hujan deras mengguyur sejak siang, tapi itu menyurutkan suasana khidmat dalam ruwatan Candi Jago Tumpang yang digelar sore ini. Melibatkan 10 kelompok jaranan dari berbagai daerah di Jawa Timur, ruwatan dipimpin oleh Ki Soleh Hadi Pramono.

Prosesi ruwatan dimulai dengan arak-arakan dari padepokan Mangundarmo menuju Candi Jago dengan membawa berbagai sesaji. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa dan mantra di altar candi.

Kegiatan ruwatan candi adalah salah satu rangkaian acara Desa Buwanakerti yang sudah dimulai sejak Kamis, (3/11) sampai dengan Minggu, (6/11), yang diselenggarakan  oleh Komunitas Buwanakerti Jawa Timur.

Penggagas acara. Joko Kuntono, mengatakan bahwa tujuan acara kali ini sebagai upaya penyadaran kembali bagaimana warga desa menghargai desa tidak hanya sekedar tempat tinggal. Akan tetapi lebih dari itu.

“Kegiatan penyadaran ini adalah untuk membangkitkan kembali bahwa desa itu bukan perluasan urban. Akhirnya yang membangun desa adalah orang kota, yang seharusnya desa membangun dirinya sendiri,” ujar pria yang dikenal sebagai pemerhati budaya asal Tumpang ini kepada Malangtoday.net di sela acara.

Dalam kaitan ini, Joko menambahkan seharusnya dalam proses pembangunan desa harus menjadi subyek. Artinya paradigma yang digunakan adalah desa membangun, bukan pembangunan desa.

Ruwatan yang diisi dengan berbagai pertunjukan kesenian tradisi sore ini juga dimaksudkan merawat kearifan dan kejayaan masa lalu.

Candi Jago adalah peninggalan monumental dari kerajaan Singhasari era Wisnuwardhana. Raja Singhasari ke empat, sekitar tahun 1268 Masehi. Pendirian Candi dengan luas sekitar 2 hektare tersebut dimaksudkan sebagai penyimpanan abu jenazah Raja Wisnuwardhana.