MALANGTODAY.NET Sebagai bangsa dengan jumlah penduduk yang tidak sedikit, Indonesia tentu memiliki berjuta pola fikir yang berbeda. Tak jarang, perbedaan itu menyulut emosi dan memunculkan perselisihan bahkan konflik yang tidak diinginkan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani menyebutkan, problem konflik yang sering terjadi memang sebagian besar akibat dari persepsi dan pola fikir yang berbeda. Sebab, memang belum meratanya pembangunan, utamanya pendidikan di Indonesia.

"Ini menjadi PR pemerintah dan pergiruan tinggi dalam mengakomodir pendidikan," tambah Puan.

Menurutnya, salah satu upaya yang sudah dilakulan adalah melalui pemberian beasiswa bidikmisi. Di mana saat ini tidak kurang dari 300 ribu penerima beasiswa bidik misi dan tersebar di berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Program beasiswa itu diharapkan mampu turut memberi andil dalam proses membangun revolusi mental. Sebab, mahasiswa yang dibidik bukan main-main dan rata-rata memiliki mental juang luar biasa dalam mengembangkan daerahnya dengan pendidikan.

"Saya pernah bertemu dengan salah seorang mahasiswa penerima beasiswa didik misi yang berasal dari daerah Timur, dan dia memiliki tekad kuat untuk membangun daerahnya. Inilah yang diinginkan pemerintah," ceritanya.

Di sisi lain, ia pun mengajak setiap peserta yang turut dalam kuliah tamu yang diisinya itu untuk turut serta membangun karakter bangsa. Ia terus memotivasi para mahasiswa agar memiliki cita-cita yang tinggi dan berfikir positif untuk menjadi bagian penting dalam revolusi mental.

"Siapa tahu nanti kalian yang duduk dihadapan saya akan menjadi pembicaraenggantikan saya di sini. Perlu digaris bahawi, kemajuan bangsa ini tak dinilai dari kepintaran dan iq, tapi juga karakter bangsa," katanya. (pit/ind).

Balas

Please enter your comment!
Please enter your name here