Ilustrasi penyebab dan dampak bully @MalangTODAY / Nanda Tri Pamungkas

MALANGTODAY.NET Sebagai fenomena sosial, bullying kerap terjadi di berbagai kalangan dan lingkungan, baik dilakuan secara sadar maupun tidak.

Menelusuri jejak bullying yang terjadi di Kota Malang, MalangTODAY.net berkesempatan mewawancarai dosen muda dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Retno Firdiyanti, S.Psi, M.Psi.

Disinggung mengenai pengertian dari kaca mata akademis, Retno menjelaskan bahwa secara simpel bullying merupakan tindak kekerasan yang dilakukan oleh satu kelompok terhadap kelompok lain. Bisa juga terjadi antara kelompok dengan individu, atau antar individu itu sendiri.

Meskipun bersifat tindak kekerasan, namun Retno menjelaskan bahwa ada tiga kategori yang perlu ada ketika seseorang dianggap sebagai korban.

Baca Juga: Mengenal Cyberbullying, Intimidasi Dunia Maya yang Begitu Mengerikan

Menurut Retno, ada tiga aspek syarat suatu tindakan telah masuk ranah bullying, yaitu:

  1. Ketidakseimbangan power antara korban dan pelaku. Kalau ada dua orang yg memiliki power sama, lalu salah satu mengejek untuk bercanda, itu belum termasuk bullying. Yang disebut power sama itu, kaitannya dengan self esteem.
  2. Ada perilaku kekerasan, bisa verbal maupun non verbal. Kalau verbal contohnya mengejek, mengolok-olok, berkata kasar, mengejek nama orangtua.

Kalau non verbal, bisa dengan mengucilkan, menjauhi dengan sengaja, mengintimidasi, mendorong, ada lagi bullying fisik yg bentuknya sampai perilaku kekerasan seperti memukul dan lain-lain.

  1. Dilakukan secara berulang-ulang. Jadi dalam jangka waktu yang lama. Jadi kalau hanya sekali mengejek, misalnya dalam kurun waktu satu bulan, hanya dua kali mengejek, berarti itu bukan bullying. Bisa jadi itu hanya agresifitas seseorang.

Lebih lanjut Retno juga memaparkan bahwa kasus-kasus bullying lebih sering terjadi di kalangan remaja. Hal tersebut bisa terjadi karena ketimpangan power atau self-esteem sangat rentan terjadi di kalangan usia ini.

“Yang biasa terjadi di kalangan remaja; karena self-esteem yang rendah. Penyebab bisa kita kaji dari kenapa self-esteem seorang korban bullying itu bisa terbentuk sedemikian rupa sehingga dia menjadi seorang korban.

“Bisa jadi dari pola asuh keluarga, bisa juga karena pertumbuhan kepribadian yang kurang optimal,” terang dosen yang juga melayani konsutasi di Pusat Layanan Psikologi Fakultas Psikologi UMM ini.

Baca Juga  Wajib Tahu, Ini Aturan Pemilik Hewan Peliharan di Kota Malang

Tak lupa wanita berusia 29 tahun tersebut juga menjelaskan bahwa dampak paling parah yang dapat dialami oleh korban bullying adalah bunuh diri. Tidak hanya pada korban, dampak dari perilaku bullying ternyata juga bisa menyasar ke pelakunya.

“Karena self-esteem yang rendah, dia (korban) merasa tidak punya nilai, merasa kasihan terhadap diri sendiri dan tidak bisa meminta orang lain untuk menolong dia. Kalau dari hasil penelitian, bullying bisa sampai menyebabkan kematian.

Baca Juga: Jackie Chan hingga Lady Gaga, 8 Artis Internasional Ini Pernah Jadi Korban Bully

“Dampak dari segi pelaku, kalau dibiarkan dia (pelaku) bisa jadi kriminal. Self-esteem yang terlalu tinggi akan membuat dia menilai orang lain lebih rendah. Bisa jadi tidak bisa mengontrol emosi, tidak bisa mengontrol diri,” kata Retno menambahkan.

Efek domino yang lebih parah dari fenomena ini adalah, bukan tidak mungkin bahwa korban bisa bertransformasi menjadi pelaku di masa yang akan datang.

Pemberontakan seorang korban bully tak jarang yang berakhir dengan dirinya merasa butuh membalaskan dendam dan menjadi seorang pelaku bully ketika telah mendapatkan self-esteem-nya sendiri.


Karet Bungkus: Ilham Musyafa
Ilustrator: Nanda Tri Pamungkas
Reporter: Rosita Shahnaz
Penulis: Kidung Swaramardika
Editor: Ilham Musyafa

Loading...