Kak Ninik Hamida, Tokoh Pendongeng Popular Kota Malang (azmy)
Kak Ninik Hamida, Tokoh Pendongeng Popular Kota Malang (azmy)

MALANGTODAY.NET – Dongeng menjadi salah satu alternatif jitu dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak. Dongeng tentu bisa jadi pengaruh terhadap perkembangan kepribadian sang anak.

Hal itu diungkapkan oleh salah satu tokoh pendidik sekaligus pendongeng popular di Kota Malang, Ninik Hamida atau yang akrab dikenal dengan nama Kak Ninik.

Dongeng, terang Kak Ninik, adalah salah satu bagian erat dari budaya tutur yang telah berlangsung sekian lama.

Metode budaya tutur menurut Ninik sangat bermanfaat bagi para tenaga pendidik, terlebih orang tua dalam memberikan nasehat kepada sang buah hati.

“Nasehat terbaik adalah dengan memberi contoh. Salah satu contoh tersebut bisa dilakukan dengan metode bercerita atau mendongeng,” ungkapnya kepada MalangTODAY, Jumat (20/10).

Melalui dongeng, terang Ninik, anak tidak akan merasa terjustifikasi atau terhakimi secara langsung. Hal ini mengingat karakter psikologis anak yang memang harus dituntun dan dididik secara perlahan.

Dengan begitu impian orang tua dalam membentuk karakter si anak dalam berakhlak mulia melalui budaya tutur akan tercapai.

“Kita ambil contoh kasus anak yang tidak suka sekolah. Kita bisa memasukkan nilai-nilai etika kerajinan terhadap anak melalui cerita dongeng,” contohnya.

Tak hanya itu, dengan dongeng juga sangat berperan dalam pembangunan budaya literasi sejak dini. Karena syarat utama dalam mendongeng, paling tidak si anak ini gemar membaca.

“Selain memacu anak-anak untuk gemar membaca, juga membangun pemahaman anak-anak untuk mencintai kebudayaan indonesia dari budaya tutur atau mendongeng,” terang Kepala Sekolah di Lembaga Tazkiyah Sukun Kota Malang ini.

Ia melanjutkan, asupan dongeng yang kita terima selama ini menurutnya kurang tepat. Sebagai contoh yaitu cerita Si Kancil yang sering diceritakan suka mencuri tersebut, menurutnya adalah materi dongeng yang kurang tepat.

Solusinya adalah mengganti karakter si kancil menjadi sosok karakter yang sudah baik, suka menolong tidak suka mencuri lagi,” contohnya.

Meski memang alternatif metode dongeng bukan salah satu metode paling efektif, paling tidak menurut Ninik, dongeng memiliki kekuatan tersendiri.

“Memang penekanan dongeng ini pada nilai kehidupan sehari-hari. Pengaruhnya memang tak tampak sekarang. Mungkin bahkan sepuluh dua puluh tahun lagi baru terasa pengaruhnya. Karena, dongeng yang baik ini akan tertancap dalam memori mereka,” pungkasnya.(azm/zuk)

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here