Ilustrasi pola asuh orang tua terkait bullying
Ilustrasi pola asuh orang tua terkait bullying @MalangTODAY / Nanda Tri Pamungkas

MALANGTODAY.NET Bullying atau perundungan menjadi sebuah mata rantai yang takkan habis dan bisa ditumpas secara tuntas jika tak ada kesadaran diri dari pihak-pihak terkait. Jika menilik pada benyak kasus bullying, seseorang menjadi pelaku karena pernah menjadi korban. Oleh sebab itu, penulis menyatakan bully sebagai sebuah fenomena sebab akibat yang tak akan ada habisnya.

Meski ada banyak faktor dari terbentuknya sikap bully ini, yang mengejutkan, pola asuh dalam keluarga ternyata memiliki peran penting dalam munculnya sifat dan sikap perundungan pada seorang anak. Bagaimana seorang anak diperlakukan dan dididik dalam rumah memberikan dampak besar tentang perilaku mereka ke depannya.

Baca Juga: Mengenal Cyberbullying, Intimidasi Dunia Maya yang Begitu Mengerikan

Menurut dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Retno Firdiyanti, pola asuh yang terlalu keras dapat memicu munculnya perilaku bully atau menindas pada anak. Pemberian hukuman-hukuman fisik dan cara keras lainnya, meningkatkan kemungkinan bagi seorang anak menjadi pelau perundungan.

“Ada juga penelitian yang menyebutkan, anak yang diasuh terlalu keras, misalnya diberi hukuman fisik, itu ada kecenderungan juga untuk menjadi pelaku bullying,” ucapnya pada MalangTODAY.net, beberapa waktu lalu.

Beberapa orang tua menerapkan didikan yang sangat keras pada buah hati dengan harapan membuat mereka menjadi sosok yang disiplin dan penurut. Beberapa bahkan menggunakan kekerasan fisik sebagai hukuman saat sang anak melakukan kesalahan atau tak menuruti perintah. Pola asuh jenis ini sering digunakan oleh orang tua pada jaman dahulu.

Pola Asuh Dua Arah

Kini dengan berbagai perkembangan jaman dan lingkungan sosial, orang tua dituntut untuk memiliki pemikiran yang lebih terbuka. Orang tua harus mulai menerapkan pola asuh dua arah. Di mana anak juga dilibatkan dalam membuat penilaian yang baik dan benar. Dengan begitu, anak juga akan belajar dalam membuat keputusan.

“Nah yang lebih tepat untuk jaman sekarang, anak dilibatkan untuk menimbang, untuk berfikir, kenapa suatu hal boleh dan tidak boleh. Jadi ada proses berfikir di anak,” tambah Retno.

Baca Juga  BUNGKUS: Fenomena Maba Kota Malang dan Sejuta Cerita di Dalamnya

Baca Juga: Jackie Chan hingga Lady Gaga, 8 Artis Internasional Ini Pernah Jadi Korban Bully

Bukan mendikte dan memberikan penilaian secara sepihak, orang tua diharapkan mampu mengarahkan sang buah hati dalam menentukan baik buruknya sebuah tindakan. Penilaian yang muncul dari dalam diri anak akan membuat mereka lebih termotivasi untuk melakukan hal-hal baik.

Oleh sebab itu, mari cegah terjadinya bullying dengan menerapkan polas asuh yang benar pada anak, dan menciptakan lingkungan yang lebih baik pada mereka.


Karet Bungkus: Ilham Musyafa
Ilustrator: Nanda Tri Pamungkas
Reporter: Rosita Shahnaz
Penulis: Kistin Septiyani
Editor: Ilham Musyafa

Loading...