MalangToday.Net MalangToday.net adalah media online di Kota Malang yang menyuguhkan berita dengan benar, pasti, tepat waktu, terpercaya, yang menjadi jembatan kebutuhan masyarakat akan informasi, dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa.

MALANGTODAY.NET – Bertempat di Gedung Rektorat Universitas Brawijaya Malang lantai 8,  Selasa (18/10). Lembaga penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat  menyelenggarakan Focus Group Discussion Optimalisasi penerapan Diversi Berbasis Pendidikan Demi menyelamatkan Anak melalui gerakan Save Our Children (SOC).

Acara diskusi ini menghadirkan pemateri Kapolres Malang Kota, AKBP Decky Hendarsono, yang diwakili Kasat Reskrim Polres Malang Kota Malang, AKP Tatang Prajitno Panjaitan, Dr. Nurini Aprilianda, SH.Mhum, Cleoputri Yusainy, Ph.D., Dra.Dewanti Rumpoko,MSi.

Kasatreskrim Polresta Malang, AKP Tatang Prayitno Panjaitan mengatakan, anak dibawah usia 18 tahun bisa berhadapan dengan hukum sebagai pelaku, korban, dan sebagai saksi, dalam berbagai faktor permasalahan.

Menurut Tatang, Selama ini pelaku anak bisa menjadi otak tindak pidana. Yang ditakutkan fisik pelaku anak sama seperti orang dewasa.

“Ini yang kita tidak duga-duga,” katanya.

Oleh karena itu, untuk penyelesaian perkaranya di proses peradilan perlu dialihkan. Hal itu sesuai dengan Pasal 1 Ayat 7 No Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Proses pengalihan itu disebut diversi.

Dosen Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya, Dr Nurini Aprilianda SH Mhum, menambahkan, diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses luar peradilan pidana. Pada tingkat penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan perkara anak di pengadilan negeri wajib diupayakan diversi.

“Tujuan di versi adalah menciptakan perdamaian antara korban dan anak. Harapannya menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan dan menghindarkan anak dari perampasan kemerdekaan. Anak-anak harus disayang,” ujarnya.

Ia menegaskan, di versi menjadi tugas polisi, masyarakat dan pemerintah.

“Itulah kenapa pemerintah dan masyarakat perlu merancang bentuk diversi mengenai keikutsertaan dalam pendidikan atau pelatihan di lembaga pendidikan atau pelayanan masyarakat. Ini belum diformulasikan di masing-masing daerah termasuk Malang,” tandasnya. (her/ind)

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda