MALANGTODAY.NET – Siapa yang tak kenal kampung warna-warni? Sebuah pemukiman yang terletak tepat di jantung Kota Malang ini sampai sekarang memang masih terus hits dikalangan anak muda. Tapi apa ya alasan yang membuat kampung ini menjadi salah satu primadona di Malang?

Pakar Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB), Hanson E. Kusuma mengatakan, seseorang memang cenderung menyukai dengan hal baru yang beda. Itu sebabnya, sesuatu yang bari selalu cenderung banyak diminati masyarakat. Termasuk dengan kampung tematik yang saat ini dimiliki Kota Malang.

“Mengenai kampung tematik ini, ada baiknya jika membuat satu saja, dan dijaga dengan baik. Karena jika lebih dari satu, maka akan dianggap biasa saja dan mereka tidak akan tertarik lagi,” katanya pada media beberapa menit lalu.

Pria beekacamata ini menambahkan, teori lain dalam bidang arsitektur guna mengembangkan kota salah satunya adalah teori Attention Restoration Theory (ART). Dalam teori tersebut, terdapat empat kriteria. Pertama, fascination, sesuatu yang sifatnya menpesona.

img20161027102451

Menurutnya, sebuah kota memang membutuhkan sebuah pesona yang bersifat tematik. Setiap titik dapat menerapkan berbagai tema berbeda, sebagai sebuah identitas.

“Kalau bisa nggak hanya beda dalam setiap titik kota, tapi juga beda dengan kota-kota lainnya,” paparnya.

Kedua, lanjutnya, extance, yang sifatnya mengundang orang merasa penasaran dan melakukan eksplorasi pada setiap titik lokasi. Sedangkan ketiga, being away, berbeda dengan keseharian. Sehingga tidak memunculkan kebosanan. Perbedaan ini bisa ditekankan, mulai dari dinding, gaya bangunan, hingga desain lampu yang digunakan.

Sementara yang terakhir menurutnya adalah competability, yakni sesuai dengan karakter orang. Mulai dari jenis kelamin sampai dengan usia seseorang. “Harus ada kesesuaian dengan target group,” pungkasnya.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda