Prof. Bagir Manan (ujung kiri) saat memberikan materi dalam Diskusi Publik 'UU ITE, Pers Netral Menuju Pemilu Berkualitas di Universitas Widyagama Malang (Arbi)
Prof. Bagir Manan (ujung kiri) saat memberikan materi dalam Diskusi Publik 'UU ITE, Pers Netral Menuju Pemilu Berkualitas di Universitas Widyagama Malang (Arbi)

MALANGTODAY.NET – Tokoh pers nasional, Prof Bagir Manan menyebut fungsi utama pers yakni sebagai peniup sangkala dan pencerah budi. Artinya, Jika terjadi ketimpangan dalam tatanan publik pers harus berani menggonggong.

Diskusi yang digelar di Universitas Widyagama (UWG) Malang dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya, Sabtu (16/3/2019) ini mendorong pers untuk bersikap independen. Sebab, bagi Bagir sikap independen menunjukkan kebebasan dan kemerdekaan pers.

“Pers itu harus independen dan sebagai pencerah budi. Saya selalu memakai pers independen. Bukan netral. Karena kalau netral berarti tidak memilih salah satu,” ungkapnya dalam diskusi publik “UU ITE, Pers Netral Menuju Pemilu Berkualitas”.

Lebih jauh, Bagir menjelaskan kebebasan pers sebagai ukuran independen. Sebab, tidak ada demokrasi tanpa pers independen. Dengan demikian, pers itu hanya satu ukurannya yaitu memberitakan dan menyebarkan opini-opini yang berisikan kebenaran.

“Maka salah satu hal yang paling dasar pada reformasi adalah memulihkan kembali kebebasan,” tegasnya.

Bagir menilai, pers merupakan pranata pertama yang dahulu mendapat kebebasan. Namun, masih sering terjadi perlakuan dan upaya menutup kebebasan pers. Oleh karena itu, sambungnya menjadi wartawan merupakan panggilan.

“Perlu diingat bahwa wartawan abal-abalan itu punya motif lain, bukan pada kebenaran,” pungkasnya.

Perihal UU ITE, Bagir menguraikan, salah satu wujud kebebasan pers adalah kebebasan berbicara (freedom of speech). Tapi tidak semua speech di golongkan freedom (kebebasan). Contoh mengumbar dan menyebar fitnah, hasutan dan hoax.

“Tidak ada kebebasan tanpa batas karena kita hidup bersama,” ujarnya.

Dari hal tersebut, beliau mengimbau agar masa menjelang dan pada saat pemilu dapat berjalan dengan damai. Sebab, salah satu ciri demokrasi ialah berjalan secara damai. Maka, kebhinekaan yang kita miliki mewajibkan kita untuk menghargai dan menjunjung tinggi keanekaragaman.

“Pemilu merupakan momen rakyat mewujudkan kedaulatan dan memberikan amanah,” tuturnya.

Maka, Bagir berharap pemilu 17 April mendatang, mulai dari proses dan mereka yang akan terpilih dapat memikul amanah dan kepercayaan rakyat serta membawa hal yang lebih baik dari hari ini.

“Pemilu yang berhasil tetap melibatkan kita masyarakat untuk ikut mengkawal. Maka perlu partisipasi masyarakat terutama pada akademisi, pers dan lembaga masyarakat agar mewujudkan pemerintahan yang bersih,” tambahnya. (ARB/AL)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.