Sempat Menghilang, Begini Keseruan Malang Tempo Doeloe
Kemeriahan Festival Malang Tempo Doeloe setelah sempat vakum beberapa tahun (Ist)

MALANGTODAY.NET – Setelah sempat menghilang beberapa tahun, Festival Malang Tempo Doeloe (MTD) akhirnya kembali digelar. Meski tak semeriah tahun-tahun sebelumnya, suasana Malang jaman dulu terasa sangat kental.

Digelar di sepanjang kawasan Simpang Balapan hingga Gereja Ijen, acara yang diselenggarakan sejak Minggu (12/11) pagi itu nampak berhasil mengobati kerinduan masyarakat. Sejak masih pagi, ribuan warga sengaja datang untuk menikmati suasana jadul Kota Malang.

Tak hanya berfoto dan bergaya dengan beragam latar jadul, para wisatawan juga dapat menikmati aneka olahan jajanan tempo dulu. Seperti gulali salah satunya, yang memang tak pernah absen dalam gelaran tersebut.

Tak hanya itu, menariknya lagi sebagian besar pengunjung tampil dengan menggunakan busana jaman dulu loh. Mulai dari kebaya khas Malangan hingga seragam khas Belanda ketika masih menduduki Kota Malang. Tua dan muda pun berbaur menjadi satu dan menikmati sederet stand yang berjajar rapi dengan ornamen jaman dulu.

Penggagas Festival Malang Tempo Doeloe, Dwi Cahyono menyampaikan, festival ini memang sengaja dibuat hanya satu hari saja. Tujuannya tentu untuk melihat antusias masyarakat akan festival yang bertunas pada akar kebudayaan itu.

“Ini sebagai obat rindu untuk masyarakat, kita lihat antusiasnya seperti apa,” katanya pada wartawan di sela-sela pembukaan Festival MTD, Minggu (12/11).

Sementara itu, Wali Kota Malang, M. Anton yang turut hadir memeriahkan acara menyampaikan, festival MTD memang menjadi salah satu ikon wisata Kota Malang. Suasana jadul sejak masa kolonial Belanda hingga masa perjuangan arek-arek Malang dapat dirasakan di sana.

“Dan dengan festival ini, perputaran ekonomi pun sangat terlihat memberi manfaat besar,” terangnya.

Di sisi lain, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yang juga turut hadir memeriahkan acara menyampaikan apresiasi terhadap gelaran tersebut.

Sekertaris Pengembangan Wisata Mancanegara Kementerian Pariwisata Indonesia, Ni Wayan Giri Abyani mengatakan, jika dilihat dari jumlah wisatawan yang datang sangat membludak, dapat dikatakan jika festival MTD memiliki keterikatan dengan masyarakat.

“Tidak hanya mendulang aspek ekonomi, Makna pelestarian, manfaat, saling menghormati, saling toleransi juga didapat dari gelaran ini,” urainya.

“Melihat masa lalu sangatlah penting agar kita tidak kehilangan jejak,” tambah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy.

Lebih lanjut dia menyampaikan, MTD diharap saat digelar setiap tahunnya sebagai kegiatan rutin. Karena jika ditilik dari sejarahnya, Malang merupakan salah satu kawasan yang paling bersejarah sejak masa Indonesia kuno sampai masa kemerdekaan dan hingga sekarang.

“Saya pun berharap ke depannya akan ada hal baru yanh diperbarui dengan Napak tilas Malang Tempo Dulu yang lebih dikuatkan lagi,” pungkasnya.

Tak hanya itu, dalam gelaran yang memang hanya berlangsung satu hati itu juga ada kegiatan paling baru, yaitu festival parut bersama. Ribuan peserta pun dilibatkan untuk memarut bersama. Tanpa kecuali isteri dari Wali Kota Malang, Umi Farida dan beberapa anggota DPRD Kota Malang seperti Yaqud Ananda Gudban, Abdul Hakim, dan Bambang Soemarto. (Pit/end)