Perolehan akhir mendali di poprov jatim@instagram.com/porprovjatim2019

MALANGTODAY.NET– Target Kota Malang mempertahankan posisi runner-up pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim VI 2019 gagal diraih. Kontingen Kota Malang harus menerima finis di urutan empat, kalah dari Kota Kediri dan Kabupaten Sidoarjo.

Sedangkan Kabupaten Malang, tak berpindah dari posisi Porprov V 2015 Banyuwangi. Kontingen asal kabupaten masih menduduki peringkat lima. Kota Batu yang menargetkan masuk 10 besar, juga harus gigit jari. Kontingen asal Kota Dingin ini masih ada di peringkat 20.

Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Malang Eddy Wahyono mengatakan, bakal melakukan evaluasi besar-besaran untuk membahas penurunan prestasi ini. “Akan kami evaluasi semua cabang olahraga (cabor),” kata dia saat dihubungi.

Hasil akhir Porprov 2019 ini, Kota Malang harus puas di peringkat empat dengan raihan medali emas 40, perak 49, perunggu 49 dengan jumlah poin 307.

Padahal, di edisi porprov sebelumnya yang berlangsung di Banyuwangi 2015 lalu Kota Malang menempati runner-up.

Harus puas di peringkat empat

Dengan raihan 42 emas, 32 perak, 50 perunggu, dengan jumlah poin 282. Hasil raihan Kota Malang saat ini memang di luar target dan ekspektasi. Sebelumnya, Eddy menarget agar kontingen asal Kota Malang bisa mempertahankan posisi runner-up.

Namun, target itu meleset. Posisi Kota Malang digeser Kota Kediri sebagai runner-up dengan perolehan medali emas 60, perak 44, perunggu 49 dengan jumlah poin 377.

Serta Kabupaten Sidoarjo yang jadi juara tiga dengan raihan medali emas 46, perak 36, perunggu 57 dengan jumlah poin 313.

Raihan Kota Malang di porprov kali ini memang mengecewakan. “Sejak awal saya sampaikan kalau pesaing kami adalah Kota Kediri dan Sidoarjo,” kata Eddy. Sebab, di edisi-edisi sebelumnya Kota Malang selalu runner-up.

Padahal, dia menjelaskan, target medali sudah diturunkan. “Apa yang saya sampaikan (target) itu yang disampaikan cabor, sebelumnya target malah lebih tinggi, tapi kami coba realistis. Setelah kami turunkan hasilnya sekarang di bawah lagi,” kata pria yang juga ketua Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Malang itu.

Menurut Eddy, ada beberapa faktor yang mengakibatkan Kota Malang gagal mempertahankan posisi runner-up. “Kalau mau jujur pembinaan olahraga saat ini sudah merata, indikatornya semua kota dan kabupaten mendapatkan medali,” kata dia.

Hasil ini berbeda dari porprov empat tahun lalu, ada kota/kabupaten yang tidak meraih medali. Saat ini, daerah lainnya sudah berusaha saling mengejar.

“Kalau toh bergeser (dengan persaingan ketat) itu bisa terjadi dan kami sendiri sempat kejar-kejaran medali,” kata Eddy.

Dia melanjutkan, kota/kabupaten saat ini melakukan pembinaan yang serius. Ini yang harus direspons Kota Malang. Jadi, lebih menyiapkan atlet sejak dini.

Selain itu, lanjut Eddy, cabor tidak bisa menyiapkan atlet secara penuh karena kemungkinan saat ini penerapan full day school.

“Karena anak-anak kan pulang sore, mereka harus mengerjakan PR, lalu latihan,” kata Eddy. Jadi, lanjut dia, pelatih tidak bisa memberikan porsi lebih dalam latihan.

“Namun, itu bukan ngeles saya, karena semua daerah juga atletnya sekolah dan sama,” kata Eddy.

Untuk anggaran, jelas Eddy, sebenarnya juga masih kurang ideal. “Kalau pakai perbandingan Porprov 2015 lalu anggarannya sama dengan saat ini (dana hibah untuk KONI 2019 Rp 12,5 miliar, setengahnya untuk porprov),” kata dia.

Namun, saat ini jumlah cabor yang diikutkan lebih banyak, dan penyelenggaraan di empat daerah; Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro.

Anggaran kurang ideal

“Kalau dibilang ideal mungkin kurang, meski ada daerah lain yang anggarannya lebih kecil dan ada yang lebih besar,” lanjut Eddy.

Belum lagi, jelas Eddy, regulasi porprov yang berubah-ubah mengganggu program dan penyiapan atlet. “Contoh saja regulasi umur, di (sport) sepeda awalnya batasan maksimal 18 tahun, terus berubah 16 tahun, ya kami tidak ada masalah karena (sport sepeda) kami tetap juara umum,” kata dia.

Selain umur, ada regulasi atlet yang sudah masuk puslatda (pemusatan latihan daerah) untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) tidak boleh ikut. “Padahal, beberapa atlet kami di puslatda itu hanya dijadikan teman sparing,” kata dia.

Kegagalan jadi bahan evaluasi

Kegagalan ini, jelas Eddy, tentu harus segera dicarikan solusi. “Akan kami kumpulkan cabor-cabor, kami evaluasi termasuk kepengurusan cabor,” kata pria yang sebelumnya menjabat ketua pengcab PBVSI Kota Malang itu.

Sebab, jelas dia, ada cabor yang kepengurusannya tidak harmonis. “Yang begitu itu merugikan,” kata dia. Begitu juga terhadap pembinaan. Cabor harus betul-betul melakukan pembinaan sejak dini. “Kalau tidak ada pembinaan, nanti tidak kami berangkatkan (porprov), percuma kalau (pembinaan) abal-abal,” tegas Eddy.

Untuk mengawasi yang dilakukan cabor, jelas dia, nantinya akan dilakukan monitoring melekat. Lebih lanjut, meski gagal mempertahankan prestasi Eddy optimistis bisa mengejar di Porprov VII 2021 yang berlangsung di Jember, Bondowoso, Situbondo, Lumajang.

“Harus bisa kami balas di porprov selanjutnya. Apa yang sudah diraih di porprov sekarang harus ditingkatkan. Karena kalau melihat potensi untuk meningkatkan sangat besar,” kata dia. Saat semua kekuatan lawan dari daerah lain sudah terpetakan.

Jadi, Kota Malang harus bergegas. Waktu dua tahun tentu tidak terlalu lama. Eddy pun tetap mengapresiasi kinerja semua atlet, official, pelatih, manajer, dan semuanya dalam porprov tersebut. Bonus Rp 30 juta bagi peraih medali emas, sebentar lagi juga akan diberikan.

Pewarta : Aris Dwi Kuncoro
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.