Afadea Bintang Ramadhani (Istimewa)

MALANGTODAY.NET– Sepintas tak terlihat jika Afadea Bintang Ramadhani adalah pesilat hebat. Sosoknya kalem dan santun. Senyum juga selalu mengembang dari wajahnya.

Itulah yang dia tunjukkan saat berkunjung kemarin. Dia didampingi Kepala Madrasah Aliyah Ibadurrochman Pondok Pesantren Anwarul Huda Karangbesuki Malang Khabib Syaikhu dan gurunya Ifan Hanafi.

Afadea begitu semangat saat diwawancarai soal kisah suksesnya tampil di Bali. Dia menjelaskan, di dunia silat, dia baru tiga tahun berlatih serius. Tepatnya saat duduk di bangku SMP.

”Kalau SD sendiri tidak begitu. Saya langsung siap masuk pencak silat ya saat SMP. Kebetulan, saat ini bergabung di perguruan Merpati Putih,” kata alumnus MTs Nurul Ulum ini.

Bahkan, selama menggeluti dunia pencak silat, dia hanya dua kali mengikuti pertandingan. ”Tahun lalu, tahun perdana mengikuti pertandingan silat tingkat nasional di Universitas Brawijaya (UB),” kata siswa kelas X MA Ibadurrahman ini.

Lalu, tahun ini selama lima hari pada pertengahan Juli lalu, dia mengikuti pertandingan prestisius pendekar muda di ajang International Open Tournament Pencak Silat Bali International Championship I.

Putra kedua dari pasangan Darmanto dan Sumaidah ini tertarik mengikuti ajang internasional saat melihat postingan di media sosial. Afadea tidak tahu, kalau ajang ini sangat prestisius di kalangan pesilat muda.

Ada 1.400-an pesilat yang ikut di ajang ini. Mereka berasal dari berbagai negara. Selain dari Indonesia, juga ada pesilat Malaysia, Filipina, Singapura. Myanmar, dan Thailand.

Ketika tahu ada informasi kejuaraan  itu, dia mengajak sejumlah rekannya untuk ikut. Namun, semuanya menolak. Alasannya, ajang itu dianggap terlalu berat. Para jagoan silat dari Asia Tenggara mendaftar.

Namun, Afadea tak patah semangat. Dia daftar sendiri. ”Yang inisiatif menjajal lomba internasional dia sendiri. Untuk pelatihnya, ada santri dari kami juga,” timpal Khabib Syaiku, kepala MA Ibadurrahman.

Menu latihan Afadea

Afadea mengaku, setelah mendaftar di ajang ini, dia merasa tidak kuat dengan menu latihan dari pelatihnya. Karena aktivitasnya di pesantren juga padat. Belum lagi dia harus digembleng latihan fisik.

Setiap hari dia harus bangun dini hari untuk salat Tahajud, Subuhan, dan memulai aktivitas belajar di sekolah sekitar pukul 08.00 WIB. Sekitar sore hari, dia latihan silat di dalam ponpes. ”Kadang di lapangan Rampal. Nah, ini berat. Disuruh lari keliling Rampal dua kali dalam waktu dua menit,” kata siswa berusia 15 tahun ini.

Baru dilanjutkan salat dan aktivitas pondok hingga pukul 20.30 WIB. Dia mengaku, sempat muntah-muntah saat mengikuti latihan.

Selain berlari, push up dan sit up, dia masih dihajar menu latihan teknik silat seperti pukulan dan tendangan selama 1–2 menit tanpa henti. ”Diulang-ulang. Lama ya, sekitar dua jam latihan per hari,” kata dia.

Ini dia lakukan secara rutin sejak sebelum puasa. Tentu Afadea sempat menyerah. Dia sempat minta izin berhenti saja dari pertandingan yang dia daftar. Pesilat ban merah kelas tiga ini malah sempat ketiduran di dalam kelas.

Beruntung, tidak ada yang menegurnya saat ketiduran. ”Alhamdulillah, saya punya pelatih yang full support. Kalau tidak, bisa mundur dalam waktu satu malam,” ujarnya dengan semringah.

Menabung demi bisa bertanding Selama persiapan, bukan cuma latihan fisik yang dia matangkan. Afadea juga harus mempersiapkan akomodasi selama ke Bali. Dia pun menabung sedikit demi sedikit. Kedua orang tuanya berdagang Tupperware di sekitaran Velodrome, Sawojajar. ”Ayah saya dagangnya di dalam mobil. Biasanya kalau saya bisa pulang ya saya bantu jualan,” tambah Afadea lagi.

Makanya, saat tahu event ini di Bali, dia senang bukan main. Setidaknya ada saudara yang menetap di Bali. Jadi, biaya yang ditanggung Afadea Rp 500 ribu.

Terdiri dari biaya administrasi sebesar Rp 250 ribu dan sisanya berupa tiket perjalanan kereta api ke Banyuwangi dan tiket penyeberangan ke Pelabuhan Gilimanuk.

Di Bali, dia harus bertanding di kelas SMA dan MA dengan bobot 69 kilogram. ”Ya, itu susahnya. Selama berlatih dan bertanding bobot ini nggak boleh turun dan gak boleh naik,” tutur alumnus SD Kauman 2 ini.

Dia sempat stres dengan kelebihan bobot 20 ons. ”Wah itu, saya kesusahan menurunkan. Sudah dikurangi porsinya, tetap kelebihan. Perlu perjuangan ekstra untuk seimbang,” tambahnya. Meski sempat dilanda stres menjelang pertandingan, Afadea mengatakan, mendapat jackpot selama bertanding.

”Langsung masuk babak semifinal, lawan Bali. Namanya Rahmad. Sayangnya, saya kalah karena teknik jatuhan dia sangat kuat,” katanya lagi.

Lawannya tangguh. Berkali-kali Afadea menerima serangan bantingan. Untung, pesilat muda ini bisa menangkis cepat.

Dia sempat sedih saat namanya diumumkan menjadi peringkat tiga. Tapi, tak perlu bersedih lama-lama karena saat pertandingan usai pun dia mendapat hadiah tersendiri dari sekolahnya.

Pengasuh Ponpes Anwarul Huda KH. M. Baidlowi Muslich secara khusus mengundang orang tua Afadea saat menyambutnya. Terlebih, ada hadiah SPP gratis selama satu semester. Afadea berhak mendapat gratis SPP sebesar Rp 600 ribu. ”Ke depan, setelah ini kami akan adakan ekskul pencak silat. Biar Afadea menjadi contoh bagi teman-teman dan juniornya kelak,” Khabib Syaiku.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.