Jadi Perdebatan, Begini Pendapat Musisi Malang Soal RUU Permusikan
Gambar Koalisi Penolakan RUU Permusikan (Istimewa)

MALANGTODAY.NET – Polemik Rancangan Undang-undang atau RUU mengenai permusikan menuai aksi pro dan kontra dari para musisi, salah satunya, solois indie, Danilla Riyardi yang menyuarakan suaranya dengan membuat petisi yang berjudul #TolakRUU Permusikan.

Tak mau ketinggalan, penggiat musik asal Malang pun mengutarakan pendapatnya tentang rancangan tersebut, salah satunya Vokalis Flanella, Pendik.

Saat dihubungi MalangTODAY.net via telepon, Kidnep, sapaan akrabnya, mengatakan, ia kurang setuju dengan adanya RUU Pasal 32 yang menyatakan bahwa musisi harus ada uji kompetensi. Sebab, imbuhnya, seni bermusik itu memakai hati jadi sulit untuk mengukurnya.

“Kita kan pakai hati ini, jadi ngukurnya dari mana gitu? Kok ada kompetensi,” jelas pelantun lagu hits Aku Bisa ini.

Lebih lagi, uji kompetensi itu, ia menyarankan, lebih tepatnya digunakan untuk para guru musik bukannya pegiat seni musik.

“Kita gak mau jadi PNS karena ya itu (uji kompetensi). Mungkin kalau guru musuk okelah. Tapi kalau musisi dari mananya mau diukur? lewat Album? Atau apa? Kan lucu,” canda Pendik.

Ia juga menyarankan, seharusnya DPR membuat rancangan yang lebih fokus ke mekanisme perlindungan hak cipta yang sampai saat ini masih belum ada kejelasannya.

“Undang-undang yang fokus menyejahterkan musisi harusnya dibanyakin seperti hak intelektual, perlindungan hak cipta gitu semua itu kan masih simpang siur,” jelas Pendik.

Hal senada juga diutarakan, vokalis grup band SoG dan Showbiz, Wahyu KCMT. Ia mengatakan jika dalam RUU pasal 32 tersebut juga sulit untuk diterapkan. Sebab menurutnya, baromater untuk mengukur kualitas musik itu abstrak.

“Sekarang ya apa caranya? Kan musisi iku kan kerjoane abstrak. Lah ya opo ngukur e? Orang seni lukis aja ya masih belum tau gimana ngukur itu bagus atau ndak e. Masih absurd lah”, ujar Wahyu.

Sementara itu, ia berpendapat, sebaiknya RUU Permusikan itu lebih fokus ke perlindungan musisi lokal. Kata Wahyu, seharusnya ada peraturan yang menyatakan setiap event Nasional yang diselenggarakan di daerah harus melibatkan musisi lokal.

“Sebaik e yo mekanisme apresiasinya bagi musisi gitu. Seperti, setiap event national yang diselenggarakan di daerah harus ada band lokal e entah iku lague atau manggunng bareng. Gimana e gitu. Iku seng perlu diperhatikan” ujarnya ke MalangTODAY.Net melalui sambungan telepon genggam. (BOB/KIS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.