Pemuka Lintas Agama Malang Raya Berkumpul di Perayaan Cap Gomeh
Para Pemuka Agama Berfoto Bersama Seusai Menyantap Menu Sayur Lontong (Bob)

MALANGTODAY.NET – Klenteng Eng An Kiong gelar penutupan hari Imlek atau cap gomeh dengan mengundang berbagai pemuka agama yang ada di kota Malang, Senin (19/02/2019).

Cap Gomeh atau yang biasa disebut lontongan adalah suatu ritual yang selalu hadir tiap tahunnya untuk menutup serangkaian upacara hari raya Imlek.

Pemuka Lintas Agama Malang Raya Berkumpul di Perayaan Cap Gomeh
Hidangan dalam perayaan Cap Gomeh di Klenteng Eng An Kiong (BOB)

Dalam kesempatan tersebut, Klenteng Eng An Kiong mengundang perwakilan pemuka agama seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha untuk menyicipi sajian di penutupan Imlek tersebut.

“Kita berkumpul jadi satu untuk penutupan hari imlek ini, hari raya lontongan. Beliau (para pemuka agama) hadir ke sini untuk menikmati apa itu lontongan,” ujar humas Eng An Kiong, Bonsu Andre di hadapan awak media.

Hadirnya para pemuka agama tersebut, kata Bonsu, bertujuan untuk menciptakan suasana kondusif di Malang raya menjelang Pemilu 17 april mendatang. Lebih lagi, maksud dari kondusif ialah agar pemberitaan di media cetak atau online tidak menyiptakan beritaberita yang tidak benar atau hoax.

“Kita bersinergi disini. Dimana sebentar lagi sebagai negara kita akan melakukan pemilihan umum. Kondusif kaitannya untuk tidak menyiarkan berita-berita hoax,” paparnya.

Selain dari ke-5 pemuka agama. Dalam acara cap gomeh ini, ada pula perwakilan dari beberapa penghayat, salah satunya penghayat Sapto Darmo.

Kata ketua penghayat yang terletak di kota Batu itu, Djayusman, dirinya sangat bangga bisa hadir di acara cap gomeh tersebut. Sebab, sebagai penghayat pihaknya sekarang sudah tak ada batasan lagi untuk berkumpul dalam acara-acara keagamaan.

“Jadi merasa bangganya. Kita punya komunitas itu tidak terskat jadi semua itu vulgar. Jadi dari kawan-kawan lainnay dari Islam, Kristen, Katolik, Budah, dan Kong Hu Chu senang dengan adanya hal ini,” bangga Djayusman.

Perlu diketahui, cap gomeh yang dirayakan setelah 15 hari, hari raya imlek ini merupakan budaya asli Indonesia. Sebab di Cina sendiri, untuk merayakan cap gomeh, warga Kong Hu Cu hanya melakukan sembahyang saja. Namun, di Indonesia, seperti kupatan setelah hari raya Idul Fitri, para penganut Kong Hu Chu juga melaksanakan lontongan. (BOB/KIS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.