Museum Musik Pertama di Indonesia, Gedungnya Bikin Ngelus Dada!
Wali Kota Malang, M. Anton ketika berkunjung ke Museum Musik Indonesia (Humas Pemkot Malang)

MALANGTODAY.NET – Museum Musik Indonesia (MMI) yang berada di lantai dua Gedung Kesenian Gajayana Kota Malang memang selalu mendapat apresiasi dari masyarakat nasional maupun internasional. Karena, MMI sendiri merupakan museum musik pertama di Indonesia dengan koleksinya yang lumayan lengkap.

Namun karena gedungnya yang masih sangat sederhana dan apa adanya, banyak membuat para pecinta musik mengeluskan dada. Tak jarang dari banyak kalangan pun tergerak untuk segera melakukan tindakan. Bekraf salah satunya, yang menginginkan museum musik pertama di Indonesia ini segera diboyong ke Jakarta untuk ditempatkan di TMII.

“Namun para pendiri MMI dengan sangat tegas menyatakan bahwa MMI sepatutnya tetap di Kota Malang, karena dari sini kelahiran MMI. Jadi kami meminta maaf untuk tidak mengambil tawaran Bekraf,” kata Humas MMI, Ciciel Sri Rejeki pada awak media baru-baru ini.

Gedung yang saat ini ditempati MMI menurutnya merupakan gedung yang difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. Luas dari gedung yang ditempati saat ini sekitar 200 meter persegi. Sementara dengan jumlah koleksi yang sangat banyak dan terus bertambah, setidaknya MMI membutuhkan luasan sebesar 1000 meter persegi.

“Banyak wali kota yang mau menyumbangkan alat musik serta baju daerahnya, tapi mereka mengkritisi gedung yang sangat sempit,” terangnya lagi.

Lebih lanjut perempuan berhijab ini menyampaikan, pemerintah pusat melalui Bekraf telah bersedia memberikan dana untuk melakukan pembangunan museum. Dengan syarat, lahannya disediakan sendiri. Sehingga dia berharap, pemerintah Kota Malang bersedia memfasilitasi sebuah lahan untuk bisa dibangun MMI.

“Karena pemerintah pusat menginginkan MMI tak hanya jadi milik orang Malang dan Indonesia. Tapi juga bisa dilihat dunia,” paparnya panjang.

Menurutnya, dengan jumlah koleksi yang sudah menyentuh angka ribuan. Mulai dari koleksi kaset, DVD, piringan hitam, alat musik modern, alat musik tradisional, baju adat, hingga kostum dari berbagai musisi legendaris, MMI sudah sepatutnya dilihat dunia. Tentunya dengan menyuguhkan yang aman layaknya yang berada di luar negeri.

“Karena rating kita di pencarian dunia maya sudah menyentuh 4,2 bintang. Hampir sama dengan Museum Musik Amerika yang sudah lima bintang. Karena aktivitas yang kita lakukan sudah mereka lihat tanpa mereka tahu bagaimana gedung kita,” beber perempuan berhijab ini.

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Bambang Soemarto menambahkan, MMI memang perlu mendapat apresiasi. Namun untuk mendapat bantuan lahan dari pemerintah kota, hendaknya dijelaskan status dari pemerintah Kota Malang itu sendiri.

“Maksudnya nanti itu Pemkot Malang akan dijadikan sebagai pembina, pengelola atau bagaimana,” urai Bambang.

Karena, lanjutnya, ketika Pemkot memberikan asetnya, maka harus ada pertanggungjawaban khusus. Selain itu, masyarakat berhak mengetahui alasan dan kegunaan dari penggunaan aset yang telah atau akan diberikan dalam berbagai kegiatan.

“Karena jelas nanti pasti ada pro dan kontra. Maka harus lebih diperjelas agar tidak ada kesalah pahaman,” tutupnya.