Apakah Mitos 212 Terjawab di Pilkada Malang 2018? Begini Analisisnya!
Mitos 212 Pilkada Malang 2018 @ MalangTODAY.net

MALANGTODAY.NET – Mitos 212 dalam pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang, sudah menjadi mitos yang beredar di masyarakat. Akankah mitos tersebut berlanjut?

212 disini maksudnya bukan Wiro Sableng lho ya, tapi pola kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang. Dari zaman kepemimpinan Kol. R. Indra Soedarmadji pada tahun 1968 sampai 1973, pola masa jabatan dua orang paling berpengaruh di kota Malang itu sudah terbentuk.

Baca Juga: Nyoblos di TPS 30, Syamsul Dapat Pesan Khusus dari Abah Anton

Soedarmadji sendiri hanya duduk di kursi N1 selama satu periode. Penggantinya, Kol. Soegiyono menjabat selama dua periode sejak 1973-1983. Lalu dilanjut dengan Dr. H. Tom Uripan N, S.H yang menjabat pada 1983-1988 sebanyak satu putaran saja.

Tahun 1988 sampai 1998, ada H. M. Soesamto yang memegang tonggak pemerintahan kota Bunga ini. Nah, dari empat pemimpin tersebut, sudah tercipta pola 212.

Pola berlanjut ketika, Kol. Inf. Suyitno terpilih menjadi Wali Kota Malang pada tahun 1998 sampai 2003, itu artinya Suyitno hanya memimpin selama satu periode.

Baca Juga: Akan Deklarasikan Kemenangan, Sutiaji: Membangun Tidak Bisa Sendiri, Mari Rawat Kebersamaan

Menguak Misteri 212 dalam Pilwali Kota Malang
Infografis misteri212 @ Nanda/MalangTODAY

Begitulah terus pola berlanjut, sampai dengan kepemimpinan Drs. Peni Suparto, M.AP yang berlangsung dua periode, mulai 2003 sampai 2013. Dan berakhir pada H. Moch. Anton yang menjabat sebagai N1 pada tahun 2013 hingga jelang kampanye Pilkada 2018 kemarin.

Anton yang sementara ini masih mengantongi masa jabatan selama satu periode, menjadi penentu akankah mitos 212 berlanjut.

Berdasarkan hasil quick count yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Cabang atau DPC PDIP Kota Malang,  menunjukkan bahwa pasangan calon nomor urut 1 yaitu Nanda Gudban dan Ahmad Wanedi, hanya mendapatkan persentase suara sebanyak 19,71 persen.

Sedangkan pasangan calon nomor urut 2, yaitu Anton-Samsul (ASIK), mendapatkan persentase suara hingga 36,88 persen. Serta pada pasangan calon nomor urut 3, Sutiaji-Edi (SAE) melesat jauh hingga 43,41 persen.

Baca Juga: Paslon Menawan Tetap Optimis, Namun Tetap Menerima Apapun Hasilnya

Kalau dilihat dari hasil quick count, jika presentase suara pasangan ASIK dari perhitungan resmi KPU tidak bertambah atau bertambah tapi selisih jauh dengan pasangan SAE atau Menawan, maka mitos 212 pun terwujud.

Sebaliknya, jika perhitungan resmi KPU menunjukkan bahwa ASIK lebih unggul daripada SAE ataupun Menawan, maka mitos 212 akan terpatahkan.

Semua ini tergantung suaramu yang sudah digunakan pada Rabu (27/6) kemarin. Sudah memilih calon yang benar kan? Jangan ngikut temen untuk milih nomor 1, 2 atau 3, tapi pilihlah berdasarkan keyakinan dan keputusanmu sendiri. Okay?


Penulis: Annisa Eka Safitri
Editor: Annisa Eka Safitri

Loading...