Sumur jepang didepan bangunan kuno (Mega)

MALANGTODAY.NET – Kawasan pemukiman padat penduduk di Jalan Bromo Gang 2 Kota Malang, ternyata memiliki bangunan kuno yang disinyalir peninggalan penjajahan Jepang.

Bangunan berbentuk later U dengan tinggi sekitar 2,5 meter dan panjang sekitar 5 meter itu berdiri kokoh di tengah-tengah rumah warga dan masih terlihat kuno. Sekitar 1 meter dari bangunan tersebut terdapat sumber air yang juga masih difungsikan oleh warga setempat.

Agung H Buana, Sekretaris TACB (Tim Ahli Cagar Budaya) Kota Malang mengatakan, bangunan tersebut bisa jadi sebuah bunker. Karena dilihat dari bentuknya bisa dilalui orang dengan berdiri. Tetapi soal kapan berdirinya, Agung belum bisa memastikan.

Karena dilihat dari bangunannya sendiri hampir sama dengan bunker yang ada di Kelurahan Bareng yang dibangun oleh Belanda.

Bangunan kuno di kawasan pemukiman padat penduduk di Jalan Bromo Gang 2 Kota Malang

“Bunker itu kan ada beberapa fungsi yakni sebagai tempat persembunyian, perlindungan maupun tempat penyimpanan. Dilihat dari bangunannya ini bisa dipakai untuk persembunyian karena bisa dipakai untuk lalu lalang manusia saat berdiri,” ujarnya kepada Malangtoday.net, Kamis (2/3).

“Nah kalau soal siapa yang membuat dan sejak kapannya ini masih belum bisa diketahui, dilihat dari periodenya, kalau tahun sebelum 1943 pasti buatan Belanda itu,” katanya.

Selain itu, Agung juga menjelaskan tentang adanya sumber air yang oleh warga di sana diberi nama sumur Jepang.

Sumber air tersebut sudah ada sejak Jepang belum datang ke Indonesia, hanya saja Jepang memperbaiki sumber air itu sehingga diberi nama sumur Jepang.

Sementara itu, Nando, salah satu anggota Komunitas Malang Awe-Awe mengatakan, posisi tatanan batu-bata di bangunan tersebut bukan dari era Belanda karena batu bata terlihat lebih tipis.

“Bangunan Belanda selalu memakai bata jawa dengan ukuran sekitar panjang 45 cm dan lebar 18-20 cm,” katanya.

Namun dikatakan, pada 1947 sewaktu Belanda masuk lagi ke Indonesia (Agresi Belanda II) antara tahun 1945-1947 warga lokal juga banyak yang membangun bunker meniru Belanda.

“Belanda meninggalkan penataan kota dengan infrastruktur, gaya arsitektur bangunan rumah, gedung dan gudang (bungker) berciri khas Eropa, sedangkan Jepang meninggalkan sistem militer, bisa jadi Jepang meninggalkan gua sebagai perlindungan,” sambung Budi Fathoni, Dosen Tata Kota Institut Teknologi Nasional (ITN) Kota Malang.

Sementara Ibu Darman, salah seorang warga yang sudah tinggal di kawasan tersebut sejak 1945. Menurut pengakuan nenek yang saat ini berusia 77 tahun ini mengatakan jika dulu bangunan itu didirikan untuk tentara Jepang bersembunyi.

“Dulu waktu baru pindah ke sini, sering lihat tentara-tentara Jepang ke bangunan itu mbak, yang buat sumur ini juga orang Jepang dibuat untuk ambil air tentara-tentaranya,” kenang Mbah Darman.

Namun demikian, walaupun bangunan yang berada di Jalan Bromo gang 2 ini menyimpan banyak sejarah. Melihat kondisinya, bangunan ini nampak tidak terawat. Terbukti warga sekitar memanfaatkan bangunan ini sebagai gudang atau tempat penyimpanan aneka barang. Bahkan sebagian digunakan sebagai tempat penyimpanan keranda jenasah.

Bangunan Kuno yang dijadikan tempat penyimpanan keranda

Malangtoday.net bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, Barisan Mbah Sinto, Jelajah Jejak Malang, Malang Awe-awe dan beberapa komunitas lainnya menyusuri bangker tersebut.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here