Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Kost Dekat UIN Malang, Ini Kisahnya
Kondisi Korban di TKP, jalan Sunan Kalijaga, kelurahan Sumbersari, Kec. Lowokwaru (Arbi)

MALANGTODAY.NET – Warga di sekitar Jalan Sunan Kalijaga, Kota Malang tak jauh dari kampus UIN Malang sempat dibuat heboh pada Selasa (26/02/2019) siang. Pasalnya, ditemukan mayat tanpa identitas di halaman lantai 2 kos milik Ajiali Yusup yang berada di daerah tersebut. Ini kisah di balik peristiwa tersebut.

Hal ini diceritakan oleh sahabat yang selalu bersama korban semasih hidup, Sumarianto, warga Jalan Joyo Utomo, Malang. Sumarianto menceritakan, korban pernah menceritakan asalnya dari Banyuwangi. Namun, korban tidak memberitahu Sumarianto mengenai keluarganya.

“Nama bapaknya (korban) Miseran. Dia sering nongkrong bareng sama kami. Beliau memang tidak punya keluarga di Malang. Makanya ia tidur di emperan toko,” ungkapnya.

Sumarianto sendiri mengamini cerita korban mengenai asal-usulnya. Sebab korban juga mengetahui banyak hal tentang Banyuwangi.

“Bapak Miseran tahu banyak tentang Banyuwangi makanya aku percaya dan dia orangnya baik, enak diajak ngobrol,” ujarnya.

Semasa hidupnya, sambung Sumarianto, korban pernah mengeluh sakit bagian dada dan kaki. Lantas sulit baginya untuk beraktivitas dan bekerja. Juga karena faktor umur korban tidak bisa berbuat apa-apa.

“Karena tak punya keluarga dan kami juga tidak tahu tentang keluarganya beliau dibantu sama orang-orang dekat kost ini,” ucapnya.

Sumarionto sangat kaget ketika mendengar informasi bahwa Miresan telah meninggal dunia. Sebab 4 hari sebelumnya, ia sempat datang menjenguk dan memijat badan korban.

“Sebelum saya berangkat ke Blitar hari Jumat saya sempat datang ke sini dan memijat badannya. Tapi katanya sudah membaik. Tiba-tiba hari ini saya datang dari Blitar beliaunya sudah meninggal,” tambahnya.

Hal senada dikatakan pemilik rumah makan dekat kost Aliaji Yusup, Iis dan suaminya, Atar bahwa korban tidak punya tempat tinggal dan umurnya sudah tua. Sempat korban memberitahu asalnya yaitu Banyuwangi.

“Bapaknya (korban) sudah tua dan sakit-sakitan. Ia menderita stroke dan hanya tidur di bawah anak tangga kos ini,” tutur Iis.

Kondisi ini menggerakan hati pasangan suami istri pemilik rumah makan itu untuk merawati korban dan memberinya makan. Setiap hari pasangan suami istri tersebut memperhatikan korban, bahkan sampai menggantikan popok korban.

“Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Makanya kami berusaha untuk menolongnya,” ujarnya.

Siang itu, tambahnya, Atar ingin menggantikan popok dan membersikan badan korban. Saat itulah korban menghembuskan nafas terakhir.

“Sempat bapaknya mengeluarkan cairan warna coklat dari mulutnya. Setelah itu badannya kaku dan tak bernyawa lagi,” jelas Atar. (ARB/AL)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.