Alun-Alun Tugu Kota Malang dikelilingi Pohon-pohon Bersejarah (ist)

MALANGTODAY.NET Berbagai jenis pohon yang ditanam pada era kolonial Belanda di Kota Malang, bukan tanpa maksud. Sekretaris Tim Cagar Budaya Kota Malang, R Agung Harjaya Buana mengatakan bahwa pohon yang merupakan penanda bagi Kota Malang, ditanam pada era kolonial Belanda untuk memberikan suatu kesan yang mempunyai spesifikasi.

“Kenapa kolonial Belanda menanam pohon palem raja? Karena ingin menunjukkan kemegahan sebuah kawasan tadi, jadi ada makna tertentu,” ujar pria yang akrab disapa Agung tersebut.

BACA JUGA: Teka-teki Pengganti Risma, Megawati Mau Ajukan Keponakannya?

Agung yang juga merupakan Kepala Seksi Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisat Kota Malang, mengatakan bahwa ia sempat mendapatkan masukan dari beberapa orang penggiat cagar budaya. Bahwa cagar budaya tidak harus benda mati, namun juga bisa berarti benda hidup.

“Kemudian kenapa Belanda menanam pohon kenari di Jalan Hasanuddin dan sekitarnya. Karena ingin memberi kesan rindang dan kokoh,” tuturnya.

Tak hanya itu, Agung juga menjelaskan bahwa pada era kolonial Belanda menanam pohon flamboyan dan trembesi yang berada di kawasan Jalan Tugu untuk memberikan kesan kokoh.

BACA JUGA: Teka-teki Pengganti Risma, Megawati Mau Ajukan Keponakannya?

“Trembesi itu biasanya ditanam di depan kantor pemerintahan, seperti di Jalan Tugu. Karena pohon trembesi itu memberi kesan kokoh dan kekuatan, dalam artian pemerintahan itu harus kuat,” ujarnya.

Lebih lanjut tentang pohon-pohon peninggalan era kolonial Belanda yang berada di Kota Malang, Agung mengatakan bahwa hal tersebut muncul berdasarkan perencanaan yang tidak serta merta ditanam, tapi merupakan perencanaan tata kota.

“Disesuaikan kawasan tersebut untuk apa dan itu semua memang tergabung dalam sebuah perencanaan kota,” pungkasnya.


Penulis: Rosita Shahnaz
Editor: Ilham Musyafa

Loading...