Komunitas LSFD dan Aktivitas rutin mereka (berkumpul, belajar dan berdiskusi)
Komunitas LSFD dan Aktivitas rutin mereka (berkumpul, belajar dan berdiskusi)

MALANGTODAY.NET Kreativitas bisa dituangkan dalam aneka rupa. Di antaranya membentuk suatu kelompok atau komunitas sebagai wadah menuangkan ide-ide. Hal ini terlihat dalam diri para pelajar Malang yang mendirikan Lingkar Studi Filsafat Discourse (LSFD).

Keadaaan menjadi alasan komunitas ini terbentuk. Pasalnya, ruang belajar yang berkonsentrasi dalam kajian filsafat di masyarakat umum terutama di Kota Malang masih langka.

Berpijak pada kenyataan ini LSFD memfasilitasi tempat belajar filsafat untuk umum seperti logika, epistemologi, ontologi, dan sejarah filsafat. Semuanya tentu tanpa melepaskan diri dari ragam filsafat kontemporer, dengan panduan pihak yang berkompeten dalam bidang filsafat. Ilmu ini kemudian dipakai untuk mengembangkan keilmuan filsafat untuk menjawab persoalan aktual dan perenial.

“Kami mendirikan komunitas ini sebagai wadah bagi kaum muda terpelajar untuk mempelajari ilmu filsafat sehingga bisa mengkaji aneka persoalan aktual secara kritis ,” tutur Dika selaku koordinator komunitas LSFD kepada MalangTODAY.

Dika menceritakan bahwa komunitas ini ‘embrionya’ sudah ada sejak tahun 2016. Namun baru terbentuk 10 Oktober 2017, bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional.

“Sampai sekarang belum ada anggota tetap. Sifatnya fleksibel siapa yang ingin bergabung maka orang hanya tinggal datang ke acara yang kami selenggarakan,” pungkas Dika, Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana.

Sebagai kota pendidikan, Malang menampung banyak pelajar muda. Oleh sebab itu, komunitas ini diperkayai oleh berbagi pelajar dari beberapa kampus dan komunitas seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Negeri Malang (UM), Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana, dan Sekolah Tinggi Filsafat Al-farabi, Semeru Art Gallery, Pelangi Sastra dan Gusdurian Malang.

Menarik bahwa komunitas ini mengadakan Kelas Filsafat Dasar sebanyak 3 kali. Di mana masing-masing terbagi atas diskusi rutin setiap minggu, bedah buku, dan nonton bareng film.

Komunitas ini berharap agar anak muda mencintai filsafat sehingga dapat berpikir rasional dalam kehidupan mereka masing.

“Dengan gembira, kami menyediakan kesempatan bagi kawan-kawan semua untuk berbagi pengalaman filosofis dalam bentuk esai bebas yang bertajuk utama filsafat,” ungkap Dika. (ARB/HAM)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.