Keseruan dibalik layar syuting Acai Nakrim (Ist)

MALANGTODAY.NET – Kesuksesan film Acai Nakrim dalam ajang My Rode Reel 2017 memang sangat sepadan dengan perjuangan yang dilakukan. Karena proses pembuatan film terbilang tak mudah dan membutuhkam tenaga ekstra.

Tapi lucunya, ada banyak keunikan yang banyak dilalui dalam proses pembuatan film pendek berdurasi tiga menit itu itu loh. Mulai dari bertemu dengan para nara pidana (Napi), hendak ditembak polisi karena disangka napi yang mau kabur, hingga harus melakoni syuting di sebuah bangunan angker.

Untuk mendapat latar yang tepat dan sesuai dengan cerita, 60 persen lokasi syuting film menurut Sutradara Acai Nakrim, Destian Rendra memang harus dilakukan di dalam bui asli. Namun untuk memantapkan cerita, maka bui harus benar-benar memiliki penampilan kumuh dan sempit.

“Sebenarnya pada awal-awal kita kesusahan untuk mencari lokasi yang pas. Karena semua penjara di Kota Malang tidak ada yang seperti itu, dan sudah bersih,” katanya pada MalangTODAY ketika ditemui di studio Hisstory Films belum lama ini.

Namun ketika hendak menyerah, lanjutnya, ia bersama tim secara tidak sengaja menemukan lokasi yang tepat di salah satu sudut bui Polsek Klojen Kota Malang. Beruntungnya, bui tersebut tidak digunakan dan memang sengaja dikosongkan sebagai tempat untuk berolahraga napi.

“Tapi atapnya bolong, jadi untuk syuting kita harus malam hari. Sedangkan untuk izinnya sendiri sudah selasai dilakukan beberapa saat sebelum proses syuting,” tambah Rendra.

Usai mendapat izin, proses syuting pun dilakukan. Total, adegan yang diambil di dalam penjara dilakukan selama dua malam berturut-turut. Selama proses syuting, para kru pun bertemu dengan para Napi yang tak jarang menggoda pemeran dalam setiap adegannya.

“Untuk masuk ke lokasi syuting kita harus melewati lorong tempat napi dengan membawa banyak sekali perlengkapan. Setiap lewat dan syuting selalu digodain sama Napi. Temen-temen yang cewek sampai ndak berani ikutan masuk,” urainya sembari tertawa.

Bahkan, lanjutnya, para napi yang ada berdekatan dengan lokasi syuting pun banyak yang sudah hafal dengan dialog para pemeran film. Sehingga sangat sering menirukan dialog ketika pemeran utama melakukam kesalahan dalam mengucapkam dialog.

“Padahal suaranya harus benar-benar clear, tapi karena banyak yang menirukan dialog akhirnya kita harus take beberapa kali,” tambah mahasiswa DKV Universitas Negeri Malang itu.

Untuk mendapatkan hasil yang bagus, ia bersama tim pun memilih menunggu momen yang tepat untuk menjalankan take ulang. Terlebih, syuting dilakukan di malam hari pada minggu terakhir bulan puasa. Di mana banyak napi yang melakukan ibadah dan mengaji. Sementara proses syuting dilakukan dari pukul sembilan malam sampai 12 dini hari.

“Kita sama sekali nggak berani memerintah mereka (napi) untuk diam, baru ketika ada petugas yang nengokin, kita minta tolong untuk memerintah mereka (napi) diam sebentar,” cerita Rendra sembari tersenyum.

Tak hanya ketegangan bertemu dengan para napi, pengalaman menegangkan lain adalah ketika pemeran utama Acai Nakrim hendak ditembak oleh petugas kepolisian, karena dikira sebagai napi yang hendak melarikan diri.

“Jadi ceritanya waktu itu yang berperan sebagai Acai Nakrim mau ke mobil ambil perlengkapan dan dikejar petugas sambil bawa senjata, dikira tahanan kabur. Karena memang masih menggunakan baju tahanan lengkap,” tambah Script Writer Acai Nakrim, Sarah Qodriyani mengenang masa lucu selama syuting.

Tak hanya sel tahanan, lokasi syuting lainnya menurut Sarah juga tidak kalah menegangkan. Salah satunya bangunan yang terkenal angker di kawasan Lembah Dieng. Beberapa adegan di ambil di sana dan dilanjutkan ke beberapa titik lain seperti sudut jalanan di Kota Batu dan kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Acai Nakrim ini sendiri berhasil diproduksi oleh tim Hisstory Films yang terdiri dari Destian Rendra, Ryansah, Vicky Martin, M. Syahidan, Denny Pradana, Premy Bima, Rifky Bima, Sarah Qodriyani, Eny W, dan Wildan Aci.

Ke sepuluh pemuda ini merupakan mahasiswa dari berbagai perguruan ttinggi di Malang, yaitu Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan Politeknik Negeri Malang (Polinema).(pit/zuk)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.