Keren, Inovasi Layanan Publik Lapobra Kota Malang Tembus Top 40
Pemaparan Walikota Malang beserta jajaran dihadapan juri dalam ajang inovasi pelayanan publik @Humas Pemkot Malang

MALANGTODAY.NET – Inovasi layanan publik yang digelontorkan Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang, Layanan Pojok Braille (Lapobra) mendapat pujian dari para juri dalam ajang kontestasi kementerian pemberdayaan aparatur negara dan reformasi birokrasi (Kemen Pan Br). Tak hanya itu, pemaparan yang dipresentasikan langsung oleh Walikota Malang, Moch. Anton itu pun berhasil masuk top 40.

Melalui keterangan tertulis yang diterima MalangTODAY, acara yang digeber di ruang Sriwijaya Gedung Kementerian PAN dan RB RI (3/5) tersebut menjadi ajang kontestasi lembaga kementerian,  lembaga negara,  BUMN,  BUMD,  Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota/Kabupaten, dalam unjuk inovasi pelayanan publik.

Di hadapan tiga juri yakni JB Kristiadi,  Refly Harun dan Wawan Sobari, Walikota Malang, Moch. Anton didampingi Kadis Perpustakaan dan Arsip Daerah Joko Yuwono, Kepala Barenlitbang Wasto, Kabag Organisasi Dwi Rahayu dan Kabag Humas Widianto, menegaskan, layanan Pojok Braille (Lapobra) dihadirkan sebagai langkah menangkap spirit equality (kesetaraan) untuk semua warga negara dalam mendapatkan hak-hak di bidang literasi dan pendidikan.

“Tak boleh ada halangan dan hambatan bagi warga untuk maju, termasuk dari saudara saudara disabilitas tuna netra dan disabilitas lainnya untuk mendapatkan layanan pustaka. Lapobra hadir untuk itu,” ujar pria yang akrab disapa Abah Anton itu.

Dari hasil pemaparan yang disampaikan, JB Kristiadi sebagai salah satu juri pun merasa tertarik. Karena tidak banyak Pemerintah Daerah yang memperhatikan pada kelompok disabilitas. Secara langsung para juri juga berkomunikasi dan menguji kemanfaatan Lapobra kepada Pandu, salah seorang disabilitas tuna netra yang dihadirkan dalam forum penilaian.

Para juri pun menyebutkan bahwa ada keunikan pada Lapobra yang jadi perhatian. Pertama sebagai pioner inovasi, layanan perpustakaan umum bagi penyandang netra dan merupakan inovasi pertama. Selain itu, layanan tersebut sifatnya mudah dan langkap. Kedua ,koleksi braille sampai saat ini sudah berjumlah 2000 buku, dan berbasis teknologi informasi serta talking book. Ketiga, juri menilai adanya komprehensif dan inklusif, SDM berkompeten, infrastruktur ramah disabel, dan layanan antar jemput gratis.

Sementara berdasarkan data tahun 2016, di Kota Malang tercatat jumlah disabilitas tuna netra sebanyak 1.138 jiwa atau 0.12 % dari total jumlah penduduk Kota Malang. Pemkot Malang sendiri sebagaimana disampaikan Walikota Anton, sejak 2015-2016 telah menggelontorkan anggaran khusus untuk pembinaan kelompok disabilitas sebesar Rp 3 Miliar, dan penataan infrastruktur yang ramah disabilitas sebesar Rp 71 Miliar.

“Khusus untuk pembangunan Lapobra sendiri mencapai Rp 3 Miliar,” terang pria nomor satu di Kota Malang itu.(pit/zuk)

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here