Tingkatkan Keterampilan Sosial Anak Lewat Permainan di Kampung Budaya Polowijen
Siswa-siswi SDN Powijen 3 Malang saat berada di KBP (Istimewa)

MALANGTODAY.NET – Kampung Budaya Polowijen (KBP) Kota Malang yang melestarikan permainan tradisional terutama bagi anak-anak, membuat tempat tersebut sering menjadi jujukan rombongan pelajar. KBP sendiri terletak di Kelurahan Polowijen Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Kali ini giliran SDN Polowijen 3 Malang berkunjung ke KBP, yang juga didampingi oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selaku fasilitator. Perwakilan mahasiswa UMM mengatakan bahwa pihaknya telah membuat modul intervensi komunitas agar menjadi acuan pembelajaran dan bisa dipraktekkan dimana-mana.

Baca Juga  Warga Polowijen Warisi Tradisi Melalui Bersih Desa

“Kegiatan intervensi komunitas melalui permainan tradisional merupakan cara efektif untuk mendekatkan siswa satu dengan yang lain dan mengembalikan dunia anak-anak yang sesungguhnya melalui dunia bermain,” ujar salah satu mahasiswi psikologi UMM, Dinda beberapa saat lalu.

Permainan ular tangga raksasa, engklek, egrang kayu, egrang batok, holahop, dakon, lompat tali, klompen raksasa dan juga kolaborasi antara kendang jimbe, patrol dan gamelan (musik perkusi) dapat dijumpai di KBP.

Baca Juga  Gobak Sodor, Permainan Indonesia dengan Nama dari Luar Negeri

Salah satu siswa kelas 3 SDN Polowijen 3 Kota Malang, Dio mengungkapkan bahwa ia sangat senang bisa memainkan berbagai permainan tradisional yang dimiliki KBP.

“Ini baru pertama kali saya main begini, klompen kelompok yang rame-rame dan seru, ini gara gara tidak kompak kita sampai jatuh terus,” ucap Dio.

Baca Juga  Meriahnya Festival Panawijen Djaman Bijen di Tanah Kelahiran Ken Dedes

Perlu diketahui, menurut penggagas KBP Ki Demang mengatakan bahwa permainan tradisional berfungsi untuk mengolah aspek psikomotorik agar anak-anak bisa terampil melakukan fungsi-fungsi koordinasi dari aspek kognitifnya.

“Di KBP, permainan tradisional terus kami lestarikan agar kemudian anak-anak mengerti, bahwa budaya ini harus tetap dipertahankan,” pungkasnya.


Reporter: Rosita Shahnaz
Editor: Swara Mardika

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.