Isu Golput Dikalangan Mahasiswa Malang, Ini Solusi Bawaslu!
Bawaslu (istimewa)

MALANGTODAY.NET – Badan pengawas pemilihan umum (Bawaslu) Kota Malang angkat bicara terkait adanya ancaman golput dikalangan Mahasiswa Malang pada ajang Pileg dan Pilpres 17 April 2019 mendatang.

Atas problematika tersebut, Komisioner Bawaslu Kota Malang bidang Penyelesaian Sengketa, Rusmifahrizal Rustam, menyarankan untuk pihak kampus mendirikan TPS. Dengan syarat minimal harus ada sejumlah 200 mahasiswa atau karyawan kampus yang bakal menggunakan hak pilihnya.

Isu Golput Dikalangan Mahasiswa Malang, Ini Solusi Bawaslu!
Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Malang bidang Penyelesaian Sengketa, Rusmifahrizal Rustam (Fajar)

“Untuk memfasilitasi mahasiswa luar kota yang pindah pilih kampus UB bisa mendirikan TPS sendiri. Syaratnya, harus ada 200 orang, baik itu mahasiswa, dosen dan karyawan yang punya hak pilih di lingkungan kampus,” tutur Rusmifahrizal beberapa waktu lalu.

Rusmifahrizal mengatakan, mahasiswa luar kota yang pindah pilih harus mengantongi Daftar Pemilih Tambahan (DPTh) atau form A5. Kemudian kampus harus melakukan pendataan, jika jumlah DPTh di atas 200 orang kampus berhak meminta ke KPU untuk disediakan TPS.

“Jadi TPS berdasar DPTb. Jadi minimal ada sekitar 200-an orang. Tapi kampus harus memenuhi perangkat yang dibutuhkan TPS. Harus ada tujuh orang kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS). Ada PTPS-nya. Ada linmasnya untuk pengamanan,” kata Rustam.

Selain itu Rustam juga menegaskan bahwa mahasiswa sebenarnya sudah diperingan hak pilihnya dengan hak pindah pilih ini. Mereka terdaftar di pemilih asalnya dan memilih hak pilihnya ke kota yang dipilih sesuai dengan tempat tinggal mereka. Peran mahasiswa dalam pemilu pilpres mendatang ini sangat penting.

“Mahasiswa ini kan banyak pas hari H. Nanti sekitar 60 juta pemilih kan dari mereka. Jadi, jangan sampai mereka nanti tidak menggunakan hak pilihnya saat Pemilu 17 April,” pungkas Rustam.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, ancaman golput tersebut dikarenakan bertepatan dengan Minggu efektif perkuliahan. Selain itu kebanyakan mahasiswa berasal dari luar Kota Malang dan hari libur nasional yang hanya satu hari, membuat para mahasiswa enggan untuk pulang ke daerah asalnya dan menggunakan hak pilihnya pada ajang Pileg dan Pilpres 17 April 2019 mendatang. (FAJ/KIS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.