Hari Kebebasan Pers Dunia, Jurnalis Malang Raya Suarakan Keadilan
Aksi para jurnalis dalam memperingati Hari Kebebasan Pers (World Press Free Day/WPFD) di halaman Balai Kota Malang.(Pipit Anggraeni)

MALANGTODAY.NET – Puluhan jurnalis Malang Raya hari ini berkumpul di area Balai Kota Malang, untuk memperingati Hari Kebebasan Pers (World Press Freedom Day/WPFD) yang ditetapkan UNESCO. Tak hanya menyuarakan tolak aksi kekerasan jurnalis, aksi kali ini juga mengajak masyarakat menolak berita hoax melalui stiker dan setangkai bunga mawar.

Tahun ini, peringatan WPFD 2017 dipusatkan di Jakarta. Sekitar 1.700 jurnalis dari 190 Negara menghadiri WPFD 2017 bertema “Critical Minds for Critical Times: Media’s role in advancing peaceful, just and inclusive societies”.

Dalam aksi kali ini, Aliansi Jurnalis Malang Raya yang terdiri atas (Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis TV Indonesia (IJTI), Pewarta Foto Indonesia (PFI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indoneska (PPMI) menuntut sembilan poin.

  1. Menuntut aparat penegak hukum serius menangani kasus kekerasan terhadap jurnalis.
  2. Meminta badan publik untuk membuka informasi seluas-luasnya sesuai UU Keterbukaan Indormasi Publik.
  3. Meminta setiap pihak yang dirugikan dengan pemberitaan untuk menggunakan mekanisme yang diatur dalam UU pers.
  4. Mengajak semua pihak untuk meneneliti, dan menyaring berita sebelum dibagi ke media social untuk menangkal berita hoax.
  5. Menuntut birokrat kampus memberikan keleluasaan Lembaga Pers Kampus melakukan kerja jurnalistik.
  6. Meminta semua media massa untuk menjaga independensi dan menolak intervensi ruang redaksi dari pengaruh siapapun.
  7. Mengajak semua jurnalis berpedoman UU Pers, Kode Etik, Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dalam melaksanakan kerja jurnalistik.

Sementara itu, Wakil Walikota Malang, Sutiaji mengatakan, jangan sampai ada kekerasan terhadap jurnalis. Selain itu, ada peraturan dan undang-undang yang sangat menjaga kebebasan publik.

“Kalau ada tekanan, jangan sampai terjadi. Karena media adalah teman dari pemerintah dan masyarakat,” katanya ketika menemui Jurnalis Malang Raya di halaman Balai Kota Malang, Rabu (3/5).

Menurutnya, ketika media mengkritisi pemerintah dan yang lain, sebenarnya adalah untuk mengingatkan,. Sehingga apabila ada kekerasan secara fisik ataupun non fisik, maka akan ditolak. Karena media menjadi salah satu pilar dari demokrasi. Media harus bersuara kepada rakyat terkait apa yang terjadi sebenarnya.

“Media jangan dicedireai oleh oknum-oknum media yang terkadang membuat media terpuruk,” tambahnya.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.