Guru besar Universitas Indonesia, Prof.Dr. Sri Edi Swasono menjadi oembicara di hadapan peserta Halaqoh Ekonomi
Guru besar Universitas Indonesia, Prof.Dr. Sri Edi Swasono menjadi oembicara di hadapan peserta Halaqoh Ekonomi "Membedah Konsep Ekonomi Gus Dur" (Bob)

MALANGTODAY.NET Guru besar Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Sri Edi Swasono mengatakan, masalah impor yang tak seimbang saat ini akibat mental bangsa Indonesia masih underdog yang terbawa dari budaya kolonial.

Hal itu ia sampaikan langsung pada acara Halaqoh Ekonomi “Membedah Konsep Ekonomi Gus Dur” yang dihelat hari ini, Kamis (31/01/2019) di Hotel Atria, Malang.

Baca Juga  Kemenhub Bakal Naikkan Tarif Ojol, Pakar Ekonomi UI: Tidak Masuk Akal!

Pada acara yang juga didatangi oleh Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli itu, ia memaparkan bahwa pada zaman kolonial Belanda, masyarakat Indonesia atau yang pada waktu itu, disebut sebagai inlander mempunyai mental “Koeli di Negeri Sendiri”.

“Kita liat dari dulu kita sudah Inlander dan diperlakukan semena-mena di negara sendiri,” ujar pria berusia 78 tahun itu.

Mental tersebut, lanjut dia, masih terbawa hingga sekarang, meskipun sudah merdeka secara konstitutional. Buktinya, ekonomi saat ini masih mengedepankan impor dari negara asing, meskipun menurutnya kebutuhan pangan masih bisa dipenuhi oleh bangsa Indonesia sendiri.

“Coba lihat kita impor garam, padahal masyarakat Madura bisa memenuhi seluruh Indonesia. Tapi masih saja impor,” jelas pria yang juga menjabat sebagai ketua umum Majelis Luhur Tunawisma tersebut.

Dosen ekonomi syariah itu juga menilai bangsa Indonesia yang masih menurut permainan pasar International dan tak berdaulat di negara sendiri.

“Lah, kenapa itu (impor) terjadi? ya karena kita masih sungkan pada asing. Kita gak berani untuk berdiri gagah di negeri sendiri” tegasnya.

Oleh karena itu, ia berharap, bangsa Indonesia, kedepan mampu berdikari di tanah airnya sendiri dan kembali menerapkan sistim ekonomi kerakyatan yang mengedepankan kepentingan rakyat alih-alih asing.

Baca Juga  Ratna Sarumpaet Ditipu Hingga Rugi 50 Juta, Guru Besar UI: Rakus!

“Sekarang, kita manut-manut ke asing. Kita maju dan dipuji. Tapi dibalik itu semua ada rakyat yang tidak merdeka secara ekonomi,” jelas pria pengagum Gus Dur itu.

Sementara itu, pada kesempatan tersebut ia juga mengingatkan bahwa meskipun Indonesia telah merdeka secara konstitusi tapi masih terjajah secara Ekonomi.

“Yang harus kita lakukan saat ini untuk tidak menjadi underdog adalah kita tidak boleh hanya memikirkan strategi untuk produksi pangan untuk rakyat. Tapi bagaimana strategi membuat produksi itu diolah oleh rakyat. Merdeka,” tegasnya didepan peserta Halaqoh Ekonomi. (BOB/HAM)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.