Rektor Universitas Brawijaya (UB), Mohammad Bisri (Pipit Anggraeni)

MALANGTODAY.NET – Dosen klinis masih menjadi problem tersendiri bagi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) Malang. Namun beruntung, Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) dari pemerintah pusat mampu memberi jalan keluar baru.

Rektor UB Mohammad Bisri mengatakan, Fakultas Kedokteran setidaknya harus seimbang antara dosen klinis dan dosen akademik. Idealnya harus 50 persen banding 50 persen.

Sejauh ini, FK UB memiliki banyak pengajar klinis berasal dari Rumah Sakit Saiful Anwah (RSSA), namun belum tercatat secara sah sebagai dosen. Artinya, sejauh ini FK UB sama sekali tidak kekurangan dosen klinis.

“Jadi dengan adanya NIDK tersebut, maka dokter yang mengajar dan bergelar doktor nantinya dapat menjadi profesor,” katanya pada wartawan, Kamis (23/2).

Menurutnya, tahun ini ada sekitar 60 dokter dari RSSA yang diajukan untuk melakukan NIDK. Rencananya, semua dari total tersebut diambil seluruhnya untuk mempermudah proses belajar dan mengajar.

“Hanya masalah keabsahan saja sebenarnya, sehingga tidak bisa dirasiokan selama ini,” tambah pria asli Malang ini.

Proporsi yang seimbang sebagaimana yang direncanakan itu, lanjut Bisri, maka kompetensi dari fakultas akan semakin meningkat. Sehingga akan berpengaruh besar pada lulusan yang dikeluarkan oleh FK UB.

“Untuk penerimaan mahasiswa baru masih sama seperti tahun sebelumnya, 250 tidak ada pengurangan,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Bisri juga menyampaikan, saat ini FK kekurangan profesor. Sehingga akan ada kebijakan baru untuk menarik profesor purna tugas. Sebab tidak sedikit yang sudah pensiun dan mengakibatkan jumlah profesor terus mengerucut.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

Balas

Please enter your comment!
Please enter your name here