Ini Kata Sopir Angkot di Ultah Kota Malang Ke-103
Angkutan umum Kota Malang. (pipit Anggraeni)

MALANGTODAY.NET – Hari ini, angkutan umum di Kota Malang kembali beroperasi setelah hampir empat hari melakukan aksi mogok. Namun pro dan kontra di kalangan netizen masih bergulir, terutama terkait status transportasi berbasis online.

Seperti yang disampaikan akun Ririnz Vaganza misalnya, yang menyampaikan bahwa angkutan konvensional sangatlah dibutuhkan oleh masyarakat dibanding transportasi berbasis online. Sebab selama aksi mogok, banyak penunpang umum dan pelajar yang terlantar.

“Andaikan angkutan online yang gak beroperasi, mungkin tidak ada dampaknya bagi masyarakat,” cuplikan komentar yang ia tulis dalam kolom komentar berita MalangTODAY.net.

Pernyataan itu pun mendapat sanggahan dari beberapa netizen. Diantaranya disampaikan akun Teguh Santoso dan Sumardi Bakrie. Keduanya tak setuju dengan pernyataan yang disampaikan sebelumnya disampaikan Ririnz Vaganza.

“Kesimpulanmu prematur mbak…,” jawab Teguh Santoso.

“Angkot bikin macet. Ngetem sembarangan. Di lampu merah lagi,” tambah Sumardi Bakrie.

Angkutan umum Kota Malang. (pipit Anggraeni)

Sementara itu, Dumin Aspilet menyampaikan pendapat berbeda. Dia mengatakan, meskipun angkutan konvensional masih dibutuhkan masyarakat, namun akan lebih baik jika pelaku usaha angkutan umum mau memperbaiki armada serta SDM nya.

“Meskipun angkot konvensional masih d butuhkan perbaiki dulu driver e yang sering ugal” an, berhenti se enaknya , ngetem d sembarang tempat dan juga perbaiki armada e supaya layak,” tulisnya.

Sedangkan terkait disetujuinya permintaan sopir angkot yang menyebutkan transportasi berbasis online sifatnya ilegal dan dilarang beroperasi dan Go-Jek berstatus quo, netizen pun menyayangkannya.

Akun Satria salah satunya, yang merasa keberatan dengan keputusan tersebut. Sebab dia merasa, keputisan tersebut tidak benar dan cenderung melegalkan angkot untuk melakukan sweeping teehadap angkotan online.

“Lho piye kok nuruti angkot (Bagaimana, kok menuruti sopir angkot: red). Masyarakat dipaksa nuruti naik angkot. Wah gak bner ini (wah, nggak benar ini). Di kota lain tdk ada yg seperti ini. Justru ini melegalkan angkot untuk berani mensweping angkotan online dg adanya keputusan walikota,” tulis Satria.

“Transportasi online jga punya hak untuk menjadi angkutan umum tpu harus memenuhi syarat sbagai angkutan umum dulu baru boleh beroprasi supaya tdk ada kecemburuan sosial,” tambah akun Ririnz Vaganza.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here