Libur Panjang, Ini Destinasi Ramah Kantong di Malang Raya
Alun-alun Tugu (Istimewa)
ads

MALANGTODAY.NET – Alun-alun tugu atau alun-alun bundar dan Balaikota Malang tentu selalu menjadi pusat perhatian. Karena keduanya merupakan salah satu ikon kebanggaan Kota Malang yang memang selalu diingat dan dikenalkan di mana-mana.

Tapi tahu nggak sih guys, ternyata ada banyak perubahan yang dialami kedua ikon tersebut dari waktu ke waktu. Salah satu yang paling tampak adalah keberadaan dari pagar hitam yang melingkar di kawasan tersebut. Karena jika dilihat dari galeri arsip yang ada, Balaikota Malang dan alun-alun tugu dulunya sama sekali tak berpagar.

Dosen arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Kota Malang, Budi Fathoni mengatakan, pembangunan pagar tersebut lebih tepatnya dilakukan pada saat periode kepemimpinan Wali Kota Peni Suparto, kurang lebih 15 tahun yang lalu.

“Waktu saya masih kecil, nggak ada itu yang namanya pagar,” ceritanya pada MalangTODAY.

Meski saat ini ke dua ikon itu tampak lebih cantik, namun ia menilai bahwa pembangunan pagar tersebut sangat tidak tepat karena tak memperhatikan esensi dari pembangunan sebuah kota.

“Warna pagar hitam, lebih seperti pagar makam,” kritiknya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, perencanaan pembangunan pagar tersebut sebelumnya sempat ia tolak. Bersama dengan banyak rekan pemerhati cagar budaya dan mahasiswa arsitektur se-Kota Malang dia meminta agar pembangunan pagar tak dilakukan.

Karena selain merusak cagar budaya, pembangunan pagar tersebut juga tidak sesuai dengan kaidah pembangunan kota. Dengan adanya pagar, menurutnya hanya akan membuat benteng dan jarak antara masyarakat dan birokrasi.

“Sekarang terbukti, setiap kali ada kegiatan pagar itu hanya memakan ruang,” jelas Budi.

Menurutnya, pembangunan pagar tersebut tetap dilancarkan dengan alasan untuk menjaga benda cagar budaya. Namun menurutnya pembangunan tersebut tak lebih dari proyek dan bukan pembangunan yang berdasarkan konsep.

“Pagar bukan sebagai pengaman, tapi sebagai pembatas,” terangnya lagi.

Tak hanya itu, lanjutnya, bagian lantai dua Balaikota juga telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya di bagian balkon lantai dua sama sekali tidak memiliki penutup atau kanopi, maka saat ini pada bagian tersebut sudah terdapat penutup.

Kawasan Tugu dulu dan sekarang@kolase/MalangTODAY

“Artinya memang ada perubahan-perubahan secara laten yang dilakukan dari masa kepemimpinan yang berbeda,” urai pria yang juga merupakan tim ahli Cagar Budaya Kota Malang itu.

Begitu juga dengan penataan di kawasan alun-alun tugu, yang menurutnya hanya menawarkan kecantikan semu. Karena bunga yang ditanam bukan bunga asli, melainkan bunga palsu. Padahal Malang dikenal sebagai kota bunga.

“Tapi, kerjasama masyarakat untuk menjaga juga dibutuhkan dalam hal ini,” bebernya.

Senada, Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Bambang Soemarto pun menyarankan, agar pagar yang mengitari kawasan Balaikota Malang dan alun-alun tugu untuk dibongkar. Pasalnya, keduanya merupakan area Cagar Budaya yang memang harus diperhatikan keasliannya.

Terlebih, rancangan peraturan daerah (Ranperda) Kota Malang tentang Cagar Budaya sudah akan disahkan. Sehingga, pemerintah harus mampu memberi contoh yang baik bagi masyarakatnya.

“Keseirusan pemerintah sangat dibutuhkan dalam hal ini,” pungkasnya.

Kalau menurut kalian gimana guys? Setuju nggak sih kalian seandainya pagar hitam di alun-alun tugu dan balaikota dihilangkan?